PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Gold Melemah Usai The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Fokus pada Data Inflasi AS
Jakarta, 29 Oktober 2026 – Harga emas kembali bergerak melemah setelah Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya dan tidak memberikan banyak petunjuk terkait arah kebijakan moneter selanjutnya. Pada perdagangan Kamis (29/10), emas spot (XAU/USD) diperdagangkan di kisaran US$4.045 per troy ounce, sementara investor masih menimbang peluang kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. [newsmaker.id]
Baca juga: EWF_CYBER2 | Freeport Buat Draft Perjanjian Lepas 12 Persen Saham ke Pemerintah RI
Keputusan terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) sebenarnya telah sesuai dengan ekspektasi pasar. Bank sentral AS mempertahankan suku bunga dengan hasil pemungutan suara 10-2. Di saat yang sama, Ketua Fed Kevin Warsh mengindikasikan adanya perubahan dalam pola pengambilan keputusan suku bunga, dengan berkurangnya jumlah pertemuan yang menghasilkan keputusan kebijakan. Langkah tersebut dinilai berpotensi meningkatkan ketidakpastian di kalangan pelaku pasar. [newsmaker.id]
Bagi pasar emas, perhatian utama masih tertuju pada kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember mendatang. Tingginya harga energi dinilai masih menjadi hambatan dalam upaya menurunkan inflasi ke target bank sentral. Dalam kondisi seperti itu, peluang kebijakan moneter yang lebih ketat cenderung menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil seperti instrumen berbunga. [newsmaker.id]
Selanjutnya, investor akan mencermati rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat, yang merupakan indikator inflasi favorit The Fed. Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga pada pertemuan berikutnya. [newsmaker.id]
Selain faktor suku bunga, emas juga menghadapi risiko tekanan dari pergerakan pasar saham. Kekhawatiran investor terhadap besarnya investasi pada sektor kecerdasan buatan dan dampaknya terhadap profitabilitas perusahaan dapat memicu aksi likuidasi aset. Dalam kondisi volatilitas tinggi, emas kerap ikut terjual ketika investor membutuhkan likuiditas untuk menutupi kerugian di pasar lain. [newsmaker.id]
Sepanjang Oktober, harga emas telah mengalami koreksi setelah sempat mencatat level tertinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa tren bullish logam mulia mulai menghadapi tantangan dari kombinasi kebijakan moneter ketat, pergerakan dolar AS, serta fluktuasi pasar saham global. [newsmaker.id]
Meski demikian, pelemahan indeks dolar Bloomberg sebesar 0,1% memberikan sedikit dukungan bagi emas untuk membatasi penurunan lebih lanjut. Ke depan, arah pergerakan logam mulia diperkirakan masih akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi AS dan sinyal terbaru dari The Fed terkait prospek suku bunga. [newsmaker.id]
Analisis Pasar
Secara teknikal, area US$4.000 per troy ounce menjadi level psikologis penting yang berpotensi menjadi zona dukungan bagi emas. Sementara itu, setiap sinyal yang mengarah pada kenaikan suku bunga tambahan oleh The Fed dapat memperbesar tekanan terhadap harga emas dalam jangka pendek. Sebaliknya, apabila data inflasi menunjukkan perlambatan, peluang pemulihan harga emas akan kembali terbuka.
Sumber: Newsmaker.id [newsmaker.id]
No Comments