PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Emas Jebol US$4.020, Tekanan Inflasi dan The Fed Membayangi Gold
Jakarta – Harga emas dunia kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat (23/10/2026). Emas spot (XAU/USD) turun ke kisaran US$4.025 per troy ounce pada awal sesi Asia, menandai level terendah dalam lebih dari dua bulan terakhir dan memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. [newsmaker.id]
Baca juga: EWF_CYBER2 | Freeport Buat Draft Perjanjian Lepas 12 Persen Saham ke Pemerintah RI
Menariknya, penurunan harga emas terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut biasanya mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Namun kali ini, pasar justru lebih fokus pada risiko inflasi dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. [newsmaker.id]
Salah satu faktor yang menekan emas adalah lonjakan harga minyak dunia. Ketegangan di Arab Saudi memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang sebuah bandara di wilayah timur Arab Saudi. Selain itu, sebuah drone dilaporkan berhasil dicegat saat berupaya menyerang fasilitas pengolahan milik Saudi Aramco di ladang minyak Shaybah. Insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi dunia. [newsmaker.id]
Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi tetap tinggi, terutama di Amerika Serikat. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama. Bagi emas, situasi tersebut menjadi sentimen negatif karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya. [newsmaker.id]
Perhatian investor kini terfokus pada pertemuan kebijakan The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada 27-28 Oktober 2026. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang bank sentral AS mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober mencapai 92,8%. Meski demikian, pasar masih membuka kemungkinan adanya kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember jika tekanan inflasi tetap kuat. [newsmaker.id]
Ketua The Fed, Kevin Warsh, juga belum memberikan sinyal yang jelas mengenai langkah berikutnya. Namun data inflasi AS yang masih berada di atas ekspektasi membuat pasar tetap berhati-hati dan cenderung mempertahankan posisi defensif terhadap aset non-yielding seperti emas. [newsmaker.id]
Ke depan, pergerakan emas diperkirakan masih akan menghadapi tekanan selama harga minyak bertahan di level tinggi dan ekspektasi pengetatan moneter belum mereda. Jika aksi jual berlanjut, level psikologis US$4.000 per troy ounce berpotensi menjadi area krusial yang akan diuji pasar dalam waktu dekat. Sebaliknya, jika tekanan inflasi mulai mereda atau The Fed memberikan sinyal yang lebih dovish, emas berpeluang rebound dari level saat ini. [newsmaker.id]
Pelaku pasar kini menantikan jawaban atas pertanyaan besar: apakah emas mampu mempertahankan posisinya di atas US$4.000, atau justru melanjutkan koreksi menjelang keputusan suku bunga AS pekan depan? [newsmaker.id]
Sumber: Newsmaker.id
No Comments