Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Harga Emas Terjun Bebas, Kekhawatiran Inflasi AS Mengguncang Pasar

08:42 23 October in Gold
0 Comments
0

Harga emas dunia mengalami tekanan besar pada perdagangan Kamis (22/10/2026) setelah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat dan kemungkinan berlanjutnya kebijakan moneter ketat oleh Federal Reserve (The Fed). Sentimen tersebut mendorong aksi jual di pasar logam mulia dan membuat harga emas mencatat penurunan harian terbesar dalam beberapa pekan. [newsmaker.id]

Di pasar berjangka COMEX New York, kontrak emas pengiriman Desember ditutup turun 2,2% ke level US$4.060,40 per troy ounce. Sementara itu, kontrak pengiriman Oktober anjlok 2,12% atau sekitar US$87,70 menjadi US$4.042,80 per troy ounce. Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak akhir September dan mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama. [newsmaker.id]

Tekanan juga terlihat pada pasar emas spot. Harga emas spot (XAU/USD) merosot 2,9% ke US$4.022,39 per troy ounce, sekaligus menyentuh level terendah sejak 3 Agustus 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah yang naik sekitar 4% dan mencapai posisi tertinggi dalam lima bulan terakhir. [newsmaker.id]

Kenaikan harga energi dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi di Arab Saudi yang memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat tekanan inflasi dan mendorong bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama dari perkiraan pasar sebelumnya. [newsmaker.id]

Selain faktor energi, data inflasi konsumen dan produsen AS yang dirilis lebih tinggi dari ekspektasi semakin memperbesar kekhawatiran pasar. Meskipun mayoritas pelaku pasar masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober mendatang, peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai sekitar 78% berdasarkan data CME FedWatch Tool. [newsmaker.id]

Ekspektasi suku bunga tinggi dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama yang mengurangi daya tarik emas. Meski selama ini emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, kenaikan biaya peluang akibat suku bunga yang tinggi membuat investor lebih memilih instrumen berbasis imbal hasil. [newsmaker.id]

Ke depan, pergerakan emas diperkirakan masih akan dibayangi volatilitas tinggi. Investor kini fokus menantikan rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada 29 Oktober yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed. Level psikologis US$4.000 per troy ounce menjadi area penting yang akan dipantau pasar apabila tekanan jual terus berlanjut. Sebaliknya, jika kekhawatiran inflasi mereda dan imbal hasil obligasi mulai turun, harga emas berpotensi mendapatkan ruang untuk melakukan pemulihan. [newsmaker.id]

No Comments

Post a Comment