PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Minyak Menguat di Tengah Memanasnya Risiko Selat Hormuz
Harga minyak dunia kembali bergerak naik pada perdagangan Rabu (7/10), didorong oleh meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Selat Hormuz yang kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Meski arus pengiriman minyak dari Timur Tengah menunjukkan pemulihan, serangkaian serangan terhadap kapal dagang membuat investor tetap mempertahankan premi risiko geopolitik dalam harga energi. [newsmaker.id]
Baca juga: EWF_CYBER2 | Freeport Buat Draft Perjanjian Lepas 12 Persen Saham ke Pemerintah RI
Minyak mentah jenis Brent tercatat kembali diperdagangkan di atas level US$101 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak mendekati US$90 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa gangguan keamanan di salah satu jalur energi terpenting dunia tersebut masih berpotensi menghambat distribusi minyak global. [newsmaker.id]
Di satu sisi, kondisi pasokan menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Arus minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan telah pulih hingga sekitar 80% dibandingkan level sebelum konflik. Perbaikan ini membantu meredakan kekhawatiran mengenai kekurangan pasokan global yang sempat memicu lonjakan harga dalam beberapa pekan terakhir. Namun demikian, stabilitas jalur pelayaran masih jauh dari kata aman. [newsmaker.id]
Laporan otoritas perdagangan maritim Inggris menyebutkan sedikitnya sembilan serangan terhadap kapal terjadi di kawasan tersebut sepanjang Oktober. Situasi ini meningkatkan risiko bagi aktivitas tanker minyak yang melintasi wilayah tersebut. Jika intensitas serangan meningkat dan mulai menghambat pergerakan kapal, maka proses normalisasi pasokan minyak dunia dapat kembali terganggu dan memicu tekanan naik terhadap harga minyak. [newsmaker.id]
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati kondisi fundamental yang masih relatif ketat. Persediaan minyak mentah global menjadi fokus perhatian investor, terutama setelah muncul perkiraan bahwa stok minyak mentah Amerika Serikat turun sekitar 2,1 juta barel dalam sepekan terakhir. Pasar kini menunggu data resmi persediaan energi untuk mengonfirmasi kondisi tersebut. [newsmaker.id]
Di saat yang sama, rencana negara-negara G7 untuk melepas hingga 100 juta barel minyak mentah dan diesel menjadi faktor yang berpotensi menambah pasokan ke pasar. Kebijakan ini diperkirakan dapat membantu menahan laju kenaikan harga apabila ketegangan geopolitik tidak semakin memburuk dalam waktu dekat. [newsmaker.id]
Risiko lain datang dari Amerika Serikat. Pasar energi juga memantau perkembangan sistem cuaca di kawasan Teluk Meksiko yang berpotensi berkembang menjadi badai tropis. Jika badai tersebut mengganggu aktivitas produksi minyak dan gas lepas pantai, maka pasokan energi dari wilayah tersebut dapat terdampak, menambah tekanan terhadap pasar minyak global. [newsmaker.id]
Secara keseluruhan, prospek minyak masih ditopang oleh kombinasi faktor fundamental dan geopolitik yang mendukung harga. Pemulihan arus pengiriman melalui Selat Hormuz serta potensi pelepasan cadangan minyak oleh G7 menjadi faktor penyeimbang. Namun, meningkatnya serangan terhadap kapal, menurunnya persediaan global, dan risiko gangguan produksi tetap menjadi katalis positif bagi harga minyak. Selama jalur ekspor utama di Timur Tengah tetap beroperasi normal, kenaikan harga kemungkinan berlangsung terbatas. Namun, setiap eskalasi konflik yang mengganggu arus perdagangan dapat kembali mendorong minyak ke level yang lebih tinggi dalam waktu singkat. [newsmaker.id]
No Comments