PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Minyak Stabil Usai Reli Dua Hari, Ancaman Pasokan Saudi Tetap Jadi Perhatian Pasar
Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Rabu (16/9) setelah mencatat kenaikan selama dua sesi berturut-turut. Pelaku pasar kini lebih fokus mencermati risiko gangguan pasokan dari Arab Saudi dan Libya yang berpotensi memperketat kondisi pasar energi global. [newsmaker.id]
Baca juga: EWF_CYBER2 | Freeport Buat Draft Perjanjian Lepas 12 Persen Saham ke Pemerintah RI
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas level US$104 per barel setelah sebelumnya menyentuh harga tertinggi sejak Mei. Sementara itu, Brent bertahan mendekati US$107 per barel, mencerminkan masih tingginya premi risiko yang melekat pada pasar energi di tengah ketidakpastian pasokan. [newsmaker.id]
Fokus utama pasar tertuju pada gangguan pipa East-West milik Arab Saudi yang masih belum beroperasi sejak serangan yang terjadi pekan lalu. Jalur strategis ini memiliki peran penting karena memungkinkan ekspor minyak Saudi dilakukan melalui rute alternatif tanpa harus melewati Selat Hormuz yang saat ini masih menghadapi ketegangan geopolitik. [newsmaker.id]
Selain Arab Saudi, pasokan dari Libya juga mengalami tekanan. Produksi di ladang minyak Hamada dan al-Tahara dilaporkan terganggu akibat penutupan katup utama. Hingga kini belum ada kepastian mengenai kapan aktivitas produksi dapat kembali normal. Namun, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyebut gangguan pada infrastruktur Saudi kemungkinan hanya berlangsung beberapa hari. [newsmaker.id]
Ketidakpastian pasokan tersebut telah memengaruhi arus perdagangan minyak global. Saudi Aramco disebut menunda sejumlah pengiriman minyak ke pelanggan di Eropa, memaksa para pembeli mencari sumber pasokan alternatif. Pada saat yang sama, pasar diesel global juga semakin ketat akibat konflik di Timur Tengah dan serangan Ukraina terhadap fasilitas kilang Rusia. [newsmaker.id]
Gangguan distribusi energi turut mendorong kenaikan biaya pengiriman. Volume pelayaran melalui Selat Hormuz masih berada di bawah tingkat sebelum konflik, sementara tarif pengangkutan minyak mentah dari Amerika Serikat ke Asia melonjak ke rekor tertinggi. Biaya sewa kapal VLCC untuk rute Teluk AS menuju China bahkan mencapai sekitar US$44,8 juta. [newsmaker.id]
Dari sisi makroekonomi, kenaikan harga minyak dan energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi global. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang diperhatikan menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve. Selain itu, pasar juga menunggu data resmi persediaan minyak AS setelah laporan American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah meningkat sekitar 7,1 juta barel pada pekan lalu. [newsmaker.id]
Analisis
Pergerakan minyak yang bertahan di dekat level tertinggi beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa pasar masih menganggap risiko pasokan sebagai faktor dominan. Gangguan pada pipa East-West Saudi, penurunan produksi Libya, ketidakstabilan di Selat Hormuz, serta ketatnya pasar diesel global menjadi kombinasi yang terus menopang harga minyak.
Dalam jangka pendek, peluang koreksi harga dapat muncul apabila pipa Saudi kembali beroperasi dan data persediaan minyak AS menunjukkan kenaikan yang signifikan. Namun, jika gangguan pasokan berlangsung lebih lama dari perkiraan, WTI dan Brent berpotensi mempertahankan level tinggi, bahkan kembali menguji area puncak terbaru. Kondisi tersebut juga dapat memperbesar tekanan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral global. [newsmaker.id]
No Comments