Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Konflik AS-Iran Memanas, Harga Emas Justru Tertekan oleh Lonjakan Yield dan Dolar AS

08:02 02 September in Gold
0 Comments
0

Jakarta – Harga emas masih bergerak di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (2/9), bertahan di kisaran US$4.330 per ons, setelah mengalami penurunan hampir 6% dalam tiga sesi perdagangan terakhir. Penurunan ini terjadi meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. [newsmaker.id]

Biasanya, meningkatnya risiko geopolitik mendorong investor memburu aset safe haven seperti emas. Namun kali ini, pasar lebih fokus pada melonjaknya imbal hasil obligasi global dan penguatan dolar AS yang menjadi faktor utama penekan harga logam mulia tersebut. Emas bahkan sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir akibat kombinasi kedua faktor tersebut. [newsmaker.id]

Tekanan terbesar datang dari pasar obligasi global. Imbal hasil obligasi melonjak ke level tertinggi sejak tahun 2008, sehingga meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Kenaikan yield membuat instrumen pendapatan tetap menjadi lebih menarik dibandingkan emas, sehingga aliran dana cenderung berpindah dari logam mulia ke aset berbasis bunga. [newsmaker.id]

Sentimen hawkish Federal Reserve juga semakin membebani pasar emas. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan kembali komitmen bank sentral AS untuk menekan inflasi, terutama di tengah risiko kenaikan harga energi akibat konflik AS-Iran yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama. [newsmaker.id]

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang hampir 70% bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan 15–16 September. Prospek kebijakan moneter yang lebih ketat membuat dolar AS semakin kuat sekaligus mengurangi daya tarik emas sebagai aset investasi. [newsmaker.id]

Dari sisi pasar obligasi AS, yield Treasury tenor 30 tahun kembali menembus 5,28%, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi jangka panjang. Sementara itu, Gubernur The Fed Michael Barr menegaskan bahwa bank sentral harus siap menaikkan suku bunga lebih lanjut apabila inflasi gagal menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang meyakinkan. [newsmaker.id]

Ke depan, pergerakan emas masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika suku bunga, dolar AS, dan pasar obligasi. Meski ketegangan geopolitik dapat memberikan dukungan sebagai aset lindung nilai, pasar saat ini menilai risiko inflasi dan sikap agresif Federal Reserve sebagai faktor yang lebih dominan. Selama yield obligasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga terus meningkat, ruang penguatan emas diperkirakan tetap terbatas. [newsmaker.id]

Kesimpulannya, konflik geopolitik yang biasanya menjadi katalis positif bagi emas untuk sementara kalah oleh tekanan dari kebijakan moneter ketat dan lonjakan imbal hasil obligasi. Investor kini menantikan keputusan Federal Reserve pertengahan September yang berpotensi menjadi penentu arah berikutnya bagi harga logam mulia. [newsmaker.id]

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaan

 

No Comments

Post a Comment