PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Dolar Terjepit di Tengah Sikap Hawkish The Fed dan Risiko Fiskal AS
Jakarta, Newsmaker.id – Dolar Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan dan mencatat penurunan bulanan untuk dua bulan berturut-turut. Meskipun Federal Reserve masih menunjukkan sikap hawkish terhadap inflasi, kekhawatiran pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah AS membuat penguatan mata uang tersebut tertahan. [newsmaker.id]
Baca juga: EWF_CYBER2 | Freeport Buat Draft Perjanjian Lepas 12 Persen Saham ke Pemerintah RI
Indeks Dolar AS (DXY) terakhir diperdagangkan di kisaran 99,43, turun sekitar 0,24%, sementara Bloomberg Dollar Spot Index mencatat pelemahan sekitar 0,9% sepanjang Agustus setelah turun 1,3% pada Juli. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen investor terhadap greenback masih cenderung berhati-hati. [newsmaker.id]
Tekanan terhadap dolar meningkat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan perluasan program pembelian kembali (buyback) obligasi Treasury tenor panjang. Langkah tersebut memicu spekulasi bahwa pemerintah AS berupaya menekan kenaikan yield obligasi sekaligus melonggarkan kondisi finansial. Kebijakan itu dinilai sebagian pelaku pasar berpotensi melemahkan daya tarik dolar dalam jangka menengah. [newsmaker.id]
Sentimen negatif tersebut mendorong sejumlah hedge fund, manajer aset, dan spekulan untuk mengurangi posisi bullish terhadap dolar. Situasi semakin kompleks setelah Bessent menyatakan bahwa dirinya memiliki pandangan yang sejalan dengan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengenai kondisi pasar obligasi AS, meskipun pelaku pasar masih menilai terdapat perbedaan antara arah kebijakan fiskal Treasury dan kebijakan moneter The Fed. [newsmaker.id]
Di sisi lain, dolar sempat memperoleh dukungan kuat pada akhir pekan lalu setelah Warsh menyampaikan pidato bernada hawkish dalam forum Jackson Hole. Pernyataannya mengenai pentingnya mengembalikan inflasi menuju target 2% membuat ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan September meningkat tajam, dari sekitar 36% menjadi lebih dari 60%. Namun penguatan dolar yang sempat terjadi tidak bertahan lama karena investor masih meragukan apakah The Fed benar-benar akan mengambil langkah pengetatan tambahan dalam waktu dekat. [newsmaker.id]
Kondisi ini menciptakan tarik-menarik sentimen di pasar valuta asing. Di satu sisi, peluang kenaikan suku bunga seharusnya menjadi katalis positif bagi dolar. Namun di sisi lain, program buyback Treasury serta meningkatnya kekhawatiran terhadap beban utang pemerintah AS membuat investor enggan melakukan akumulasi dolar secara agresif. [newsmaker.id]
Sejumlah analis bahkan menilai dolar berpotensi melanjutkan pelemahan pada September apabila data ekonomi AS tidak memberikan dukungan yang cukup kuat untuk membenarkan kenaikan suku bunga. Karena itu, perhatian pasar kini tertuju pada rilis data tenaga kerja AS yang dijadwalkan pada Jumat pekan ini. Konsensus memperkirakan Nonfarm Payrolls (NFP) Agustus bertambah sekitar 55.000 pekerjaan. [newsmaker.id]
Data tenaga kerja yang lebih lemah dari proyeksi berpotensi kembali menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga dan memperbesar tekanan terhadap dolar. Sebaliknya, jika NFP menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, greenback berpeluang mendapatkan momentum pemulihan dan kembali menguji level psikologis penting. [newsmaker.id]
Analisis Pasar
Fundamental dolar saat ini berada di persimpangan antara kebijakan moneter yang masih hawkish dan tekanan dari sisi fiskal. Selama program buyback obligasi Treasury terus memunculkan kekhawatiran mengenai arah kebijakan pemerintah serta data ekonomi belum menunjukkan akselerasi yang signifikan, ruang kenaikan dolar diperkirakan masih terbatas. Rilis data NFP pekan ini akan menjadi penentu utama apakah DXY mampu kembali menembus level 100 atau justru melanjutkan tren pelemahan pada awal September. [newsmaker.id]
No Comments