PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Yield Treasury Turun, Dolar AS Bertahan Dekat Level Terendah Tiga Bulan
Jakarta – Dolar Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (25/8), seiring meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko setelah penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury). Indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah sekitar 0,1% ke level 98,93 dan masih bergerak di dekat titik terendah sejak pertengahan Mei. Sepanjang pekan lalu, indeks ini juga telah kehilangan hampir 1% nilainya. [newsmaker.id]
Baca juga: EWF_CYBER2 | Freeport Buat Draft Perjanjian Lepas 12 Persen Saham ke Pemerintah RI
Sentimen utama yang membebani mata uang AS berasal dari pasar obligasi. Yield Treasury turun untuk hari kedua berturut-turut setelah muncul laporan bahwa pemerintah AS berpotensi memanfaatkan hampir US$1 triliun dana Treasury General Account (TGA) guna mendukung program buyback obligasi jangka panjang. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya untuk meredam tekanan kenaikan yield, khususnya pada tenor panjang. [newsmaker.id]
Meski demikian, pelaku pasar masih mempertanyakan efektivitas kebijakan tersebut dalam jangka panjang. Banyak investor menilai program buyback belum mampu mengatasi persoalan mendasar fiskal AS yang semakin berat. Dengan total utang pemerintah yang telah melampaui US$40 triliun, kekhawatiran terhadap keberlanjutan keuangan negara kembali mencuat dan memicu munculnya narasi debasement trade, yaitu pergeseran investasi dari mata uang fiat menuju aset alternatif seperti emas dan kripto. [newsmaker.id]
Di sisi lain, ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada kembali meningkat. Pemerintah Kanada mengumumkan tarif balasan sebesar 15% hingga 50% terhadap produk-produk asal AS senilai sekitar US$27,6 miliar yang akan mulai diberlakukan pada 8 September. Produk yang terdampak mencakup baja, produk susu, peralatan rumah tangga, mesin pertanian, pulp dan kertas, hingga barang elektronik. Kebijakan tersebut sempat memberikan dukungan bagi dolar Kanada setelah sebelumnya mengalami pelemahan. [newsmaker.id]
Sementara itu, mayoritas mata uang utama berhasil menguat terhadap dolar AS. Poundsterling naik ke kisaran 1,3650 terhadap dolar, euro menguat tipis ke 1,1674 setelah data pertumbuhan ekonomi Jerman menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan, sedangkan dolar Australia naik sekitar 0,2% ke level 0,7164. Di pasar Asia, pasangan USD/JPY relatif stabil di sekitar 159,10. [newsmaker.id]
Fokus Pasar Beralih ke PCE dan Jackson Hole
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada rilis data Core PCE AS bulan Juli, indikator inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve, serta pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam forum Jackson Hole. Kedua agenda tersebut diperkirakan menjadi penentu arah pergerakan dolar dan yield obligasi dalam jangka pendek. [newsmaker.id]
Jika data inflasi menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari ekspektasi atau Warsh menyampaikan pandangan yang cenderung hawkish, dolar berpotensi memperoleh dukungan dan kembali menguat. Sebaliknya, jika inflasi melandai dan sinyal kebijakan moneter lebih dovish, tekanan terhadap greenback dapat berlanjut sekaligus memberikan dorongan tambahan bagi emas, aset kripto, dan instrumen berisiko lainnya. [newsmaker.id]
Secara keseluruhan, tren pelemahan dolar masih berpotensi berlanjut selama yield Treasury tetap menurun dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS mendominasi sentimen pasar global. [newsmaker.id]
No Comments