Blog

PT Equityworld Futures Cyber 2 Jakarta | Wall Street Kembali Melemah, Saham Teknologi dan Ketegangan Timur Tengah Tekan Pasar

09:16 12 August in Uncategorized
0 Comments
0

Jakarta – Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (11/8), seiring meningkatnya tekanan pada sektor teknologi dan memburuknya sentimen pasar akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Pelemahan ini menandai koreksi selama dua hari berturut-turut bagi indeks utama Wall Street. [investor.id]

Indeks S&P 500 turun 0,32% ke level 7.728,20, sementara Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi terkoreksi lebih dalam sebesar 0,60% menjadi 26.445,45. Adapun Dow Jones Industrial Average melemah 184,13 poin atau 0,34% ke posisi 53.791,85. [investor.id]

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi dan layanan komunikasi. Saham Alphabet, induk perusahaan Google, mengalami penurunan sekitar 3,8%, sedangkan AppLovin merosot hampir 6%. Kinerja Alphabet menjadi sorotan investor setelah perusahaan mengumumkan restrukturisasi divisi kecerdasan buatan (AI) pada pekan sebelumnya. Sejak pengumuman tersebut, saham perusahaan tercatat mengalami pelemahan dalam sebagian besar sesi perdagangan. [investor.id]

Sementara itu, sektor teknologi informasi juga gagal mempertahankan penguatan. Saham Nvidia, yang sempat bergerak positif di awal perdagangan, akhirnya ditutup melemah. Padahal, perusahaan tersebut baru saja mengumumkan kemitraan dengan sejumlah manajer aset besar untuk mendukung pembangunan infrastruktur AI bernilai lebih dari US$500 miliar. Di sisi lain, saham Apple juga ikut terkoreksi lebih dari 1%, menambah tekanan terhadap Nasdaq. [investor.id]

Selain faktor korporasi, investor juga mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Harapan pasar terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak terpenting dunia, mulai memudar setelah pejabat Iran menegaskan bahwa jalur tersebut belum akan dibuka sebelum sejumlah tuntutan mereka dipenuhi. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. [investor.id]

Ketidakpastian tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Lonjakan harga energi dikhawatirkan akan meningkatkan tekanan inflasi di Amerika Serikat, yang pada akhirnya dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Kekhawatiran inflasi yang kembali menguat membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, khususnya saham teknologi yang selama ini menjadi motor penguatan pasar. [investor.id]

Analis menilai kombinasi antara valuasi tinggi saham teknologi, ketidakpastian geopolitik, dan potensi tekanan inflasi menjadi faktor utama yang membatasi ruang penguatan Wall Street dalam jangka pendek. Selama isu-isu tersebut belum mereda, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi.

Sumber: Newsmaker

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaan

No Comments

Post a Comment