PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Emas Melemah di Tengah Ketegangan Iran-AS dan Bayang-Bayang Inflasi Amerika
Jakarta – Harga emas mengalami tekanan pada perdagangan Senin (13/7) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya perhatian pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS). Kombinasi kedua faktor tersebut memicu kekhawatiran bahwa suku bunga AS dapat tetap tinggi lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset investasi. [newsmaker.id]
Baca juga: EWF_CYBER2 | Freeport Buat Draft Perjanjian Lepas 12 Persen Saham ke Pemerintah RI
Pada awal pekan, harga emas sempat turun hingga sekitar 1,2% dan bergerak di bawah level US$4.070 per troy ounce. Setelah mencatat pelemahan sekitar 1,4% sepanjang pekan sebelumnya, logam mulia ini kembali berada di bawah tekanan. Pada pukul 07.40 waktu Singapura, harga emas spot tercatat turun sekitar 1% menjadi US$4.077,77 per troy ounce. Logam mulia lainnya juga mengalami penurunan, termasuk perak yang melemah 1,7% ke US$58,83 per ounce, sementara platinum dan palladium ikut terkoreksi. [newsmaker.id]
Sentimen pasar saat ini banyak dipengaruhi oleh perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya terkait Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia. Iran sempat menyatakan bahwa jalur tersebut akan ditutup hingga waktu yang belum ditentukan, namun klaim tersebut dibantah oleh Amerika Serikat. Militer AS menyatakan bahwa operasi yang dilakukan bertujuan memastikan kebebasan navigasi di kawasan tersebut tetap terjaga. [newsmaker.id]
Meski konflik geopolitik biasanya mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas, kondisi kali ini justru memberikan tekanan berbeda. Kenaikan harga energi akibat meningkatnya ketegangan berpotensi memicu inflasi yang lebih tinggi. Jika tekanan inflasi meningkat, Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Situasi ini cenderung negatif bagi emas karena aset tersebut tidak menghasilkan imbal hasil seperti instrumen berbunga. [newsmaker.id]
Pandangan tersebut juga diperkuat oleh risalah rapat The Fed bulan Juni yang dirilis pekan lalu. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa sejumlah pejabat bank sentral AS sempat mempertimbangkan alasan untuk menaikkan suku bunga, meskipun pada akhirnya memilih mempertahankan kebijakan yang ada. Hal ini membuat pelaku pasar semakin berhati-hati dalam menilai prospek emas dalam jangka pendek. [newsmaker.id]
Selain perkembangan konflik Timur Tengah, investor juga menantikan rilis data inflasi konsumen AS periode Juni serta penampilan perdana Ketua The Fed, Kevin Warsh, di hadapan Kongres. Kedua agenda tersebut dinilai krusial karena dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter AS pada pertemuan berikutnya. Bila inflasi tercatat lebih tinggi dari perkiraan atau pernyataan Warsh bernada hawkish, tekanan terhadap harga emas berpotensi semakin besar. [newsmaker.id]
Di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, pergerakan emas dalam waktu dekat diperkirakan akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global dan sinyal kebijakan dari The Fed. Investor akan terus mencermati kedua faktor tersebut untuk menentukan arah pasar logam mulia selanjutnya. [newsmaker.id]
Sumber: Newsmaker.id
No Comments