PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Harga Minyak Turun, Tetapi Risiko Kenaikan Masih Membayangi
Jakarta, 29 Juni 2026 – Pergerakan harga minyak dunia kembali menunjukkan volatilitas tinggi seiring perkembangan terbaru hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meskipun harga minyak sempat mengalami tekanan dan turun lebih dari 10% pada pekan lalu, para pelaku pasar menilai penurunan tersebut belum tentu bersifat permanen karena kesepakatan damai sementara antara kedua negara masih dianggap rapuh. [newsmaker.id]
Baca juga: EWF_CYBER2 | Freeport Buat Draft Perjanjian Lepas 12 Persen Saham ke Pemerintah RI
Pada perdagangan Asia awal pekan, harga minyak Brent kontrak Agustus tercatat naik sekitar 0,8% menjadi US$72,56 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah muncul kembali ketegangan antara AS dan Iran yang memicu keraguan terhadap keberlangsungan kesepakatan damai yang baru saja dicapai. Namun demikian, kenaikan harga masih relatif terbatas karena kedua negara dilaporkan tetap berkomitmen melanjutkan perundingan di Qatar dalam beberapa hari ke depan. [newsmaker.id]
Sebelumnya, pasar minyak sempat mendapatkan sentimen positif dari tercapainya kesepakatan damai sementara antara Washington dan Teheran. Kondisi tersebut membuat investor mengurangi kekhawatiran terhadap risiko konflik yang dapat mengganggu pasokan energi global, sehingga premi risiko geopolitik pada harga minyak ikut menurun. Akibatnya, harga minyak sempat jatuh ke level terendah dalam empat bulan terakhir. [newsmaker.id]
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap harga minyak juga berasal dari membaiknya kondisi pasokan. Arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan kembali mendekati level normal seperti sebelum konflik terjadi. Normalisasi aktivitas di jalur strategis tersebut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia. [newsmaker.id]
Namun, optimisme tersebut kembali terganggu setelah muncul laporan mengenai aksi saling serang antara AS dan Iran pada akhir pekan. Ketegangan dipicu oleh perbedaan pandangan terkait otoritas Iran di kawasan Selat Hormuz. Insiden tersebut sempat menghambat aktivitas pelayaran dan mendorong harga minyak bergerak naik pada perdagangan Senin. [newsmaker.id]
Meski demikian, pasar tidak bereaksi secara berlebihan karena muncul kabar bahwa kedua negara telah menyepakati penghentian permusuhan secara langsung dan segera. Selain itu, dialog lanjutan di Qatar juga menjadi faktor yang membantu meredam kepanikan investor. Walaupun begitu, para pelaku pasar masih berhati-hati karena kesepakatan yang ada saat ini dinilai belum cukup kuat untuk menjamin stabilitas jangka panjang. [newsmaker.id]
Ke depan, perhatian investor tidak hanya tertuju pada hubungan AS-Iran, tetapi juga pada dinamika konflik di kawasan Timur Tengah lainnya. Ketegangan antara Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon masih menjadi tantangan utama bagi upaya perdamaian yang lebih luas. Iran disebut menginginkan agar Lebanon turut dimasukkan dalam kerangka kesepakatan regional, sementara bentrokan di wilayah selatan Lebanon masih terus berlangsung. Kondisi ini berpotensi mempertahankan ketidakpastian geopolitik dan menjaga volatilitas harga minyak dalam beberapa waktu mendatang. [newsmaker.id]
Kesimpulannya, meskipun harga minyak sempat turun tajam karena meredanya ketegangan geopolitik, risiko kenaikan harga masih terbuka lebar. Selama kesepakatan damai AS-Iran belum benar-benar stabil dan konflik kawasan belum terselesaikan, pasar energi global diperkirakan akan tetap sensitif terhadap setiap perkembangan politik dan keamanan di Timur Tengah. [newsmaker.id]
No Comments