PT Equityworld Futures Cyber 2Jakarta | Minyak Anjlok, Pembukaan Selat Hormuz Redakan Kekhawatiran Pasar
Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah muncul kabar bahwa Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global—berpotensi kembali dibuka. Perkembangan ini langsung direspons pasar dengan pelepasan premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak melonjak dalam beberapa pekan terakhir.
Baca juga: EWF_CYBER2 | Freeport Buat Draft Perjanjian Lepas 12 Persen Saham ke Pemerintah RI
Penurunan harga terjadi seiring sinyal de-eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan yang tengah dirundingkan membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dinilai menjadi faktor utama yang meredakan kekhawatiran gangguan pasokan global.
Harga Minyak Turun Tajam
Dalam perdagangan terbaru, harga minyak mentah acuan global Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mencatat penurunan signifikan. Brent sempat turun sekitar 9% hingga ke kisaran US$90 per barel, sementara WTI merosot lebih dari 11% ke level sekitar US$83 per barel. Penurunan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam waktu singkat sejak awal konflik memanas. [newsmaker.id]
Penurunan harga juga terlihat dalam perkembangan terbaru Juni 2026, di mana minyak kembali melemah ke kisaran US$80–83 per barel setelah muncul kabar kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz. [liputan6.com]
Reaksi cepat pasar menunjukkan bahwa faktor geopolitik masih menjadi penggerak utama harga minyak, terutama ketika berkaitan dengan jalur distribusi strategis seperti Hormuz.
Selat Hormuz: Urat Nadi Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia, yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global. [liputan6.com]
Sejak konflik memuncak pada akhir Februari 2026, jalur ini sempat terganggu bahkan hampir berhenti total. Penutupan tersebut memicu lonjakan harga minyak hingga di atas US$120 per barel akibat kekhawatiran kekurangan pasokan global. [en.wikipedia.org]
Karena perannya yang krusial, setiap perubahan status Selat Hormuz—baik ditutup maupun dibuka—langsung berdampak besar terhadap stabilitas pasar energi dunia.
Pembukaan Kembali Redakan Premi Risiko
Ketika Iran memberi sinyal bahwa jalur pelayaran akan dibuka kembali selama periode gencatan senjata, pasar segera merespons dengan menghapus premi risiko yang sebelumnya tertanam dalam harga minyak. [newsmaker.id]
Analis menilai bahwa pasar kini mulai kembali memfokuskan perhatian pada kondisi pasokan riil (physical supply), bukan lagi pada ancaman gangguan distribusi. Hal ini membuat harga minyak turun karena ekspektasi suplai global akan kembali normal.
Selain itu, data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas pelayaran mulai pulih, dengan kapal tanker mulai kembali melintas keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz. [newsmaker.id]
Harapan Perdamaian Dorong Sentimen Positif
Kabar mengenai kemajuan negosiasi antara AS dan Iran juga ikut memperkuat sentimen positif di pasar. Kedua negara dilaporkan semakin dekat dengan kesepakatan damai yang mencakup pembukaan Selat Hormuz serta penghentian konflik militer. [reuters.com]
Presiden AS bahkan menyatakan bahwa kesepakatan telah dicapai untuk membuka jalur tersebut dan mengakhiri blokade, yang memungkinkan arus minyak kembali mengalir normal. [liputan6.com]
Harapan akan stabilitas geopolitik inilah yang menjadi faktor kunci di balik penurunan harga minyak secara drastis.
Outlook: Masih Ada Ketidakpastian
Meski tren penurunan harga sudah terjadi, para analis mengingatkan bahwa risiko belum sepenuhnya hilang. Implementasi kesepakatan serta kondisi keamanan di kawasan masih menjadi faktor penting yang akan menentukan stabilitas pasokan ke depan.
Pasar juga terus memantau seberapa cepat produksi dan ekspor minyak dari Timur Tengah dapat pulih ke level sebelum konflik. Jika pemulihan berlangsung cepat, harga minyak berpotensi tetap berada dalam tekanan.
Sebaliknya, jika ketegangan kembali meningkat atau implementasi kesepakatan tersendat, harga minyak bisa kembali melonjak.
Kesimpulan:
Anjloknya harga minyak saat ini terutama dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik dan peluang dibukanya kembali Selat Hormuz. Normalisasi jalur distribusi energi global membuat pasar lebih optimistis terhadap ketersediaan pasokan, sehingga tekanan harga berkurang. Namun, dinamika geopolitik yang masih berkembang membuat prospek harga minyak tetap penuh ketidakpastian.
Sumber : Newsmaker.id
No Comments