Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Dolar AS Alami Pelemahan Terpanjang Sejak 2020, Optimisme Geopolitik Tekan Permintaan Safe Haven

08:05 16 April in Business
0 Comments
0

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan dan mencatatkan tren pelemahan terpanjang sejak tahun 2020. Mata uang Paman Sam tersebut melemah selama delapan sesi perdagangan berturut-turut, seiring berubahnya sentimen pelaku pasar global yang semakin berani mengambil risiko. Investor menilai ketegangan geopolitik mulai mereda, khususnya terkait komunikasi dan peluang perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. [newsmaker.id]

Pelemahan ini tercermin dari Bloomberg Dollar Spot Index yang kembali turun, memperpanjang penurunan kumulatif sekitar 1,9% dalam delapan hari terakhir. Pergerakan indeks tersebut menempatkan dolar di level yang terakhir terlihat pada awal Maret, sebelum konflik Iran kembali memanas dan sempat mendorong permintaan besar terhadap aset safe haven. [newsmaker.id]

Sentimen Risiko Menguat, Dolar Kehilangan Daya Tarik

Meredanya kekhawatiran geopolitik membuat investor global mulai mengurangi posisi defensif mereka. Optimisme bahwa Amerika Serikat dan Iran berpotensi melanjutkan gencatan senjata dan membuka kembali jalur negosiasi jangka panjang mendorong minat terhadap aset berisiko. Dalam situasi seperti ini, dolar AS yang biasanya diuntungkan saat ketidakpastian meningkat justru kehilangan daya tariknya. [newsmaker.id]

Kondisi tersebut sejalan dengan reli di pasar saham global. Indeks saham utama Amerika Serikat, seperti S&P 500 dan Nasdaq 100, mencetak rekor tertinggi baru, mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi global dalam jangka pendek. Pergeseran portofolio dari aset aman ke aset berisiko menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan dolar. [newsmaker.id]

Obligasi AS dan Pandangan Pelaku Pasar

Di tengah pelemahan dolar, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun justru mengalami kenaikan tipis dan berada di kisaran 4,28%. Hal ini menunjukkan bahwa pasar obligasi belum sepenuhnya mencerminkan kekhawatiran mendalam, melainkan masih berada dalam fase penyesuaian terhadap perubahan ekspektasi global. Namun demikian, kenaikan yield tersebut belum cukup kuat untuk menopang penguatan mata uang dolar. [newsmaker.id]

Analis dari MUFG menilai pasar saat ini terlalu optimistis dalam memandang perkembangan geopolitik Timur Tengah. Mereka mencatat bahwa banyak investor mulai “menyerah” pada strategi mempertahankan posisi beli dolar dalam jangka panjang. Lemahnya respons dolar sejak konflik dimulai dianggap sebagai sinyal bahwa fondasi fundamental mata uang tersebut sudah rapuh bahkan sebelum ketegangan geopolitik meningkat. [newsmaker.id]

Pergerakan Mata Uang Utama Dunia

Di pasar valuta asing, sebagian besar mata uang utama kelompok G-10 bergerak menguat terhadap dolar AS. Euro dan pound sterling relatif stabil namun tetap berada dekat level tertinggi harian setelah mencatatkan kenaikan beruntun dalam beberapa sesi terakhir. Sebaliknya, yen Jepang cenderung tertinggal akibat faktor domestik dan sinyal kewaspadaan dari pemerintah Jepang terkait pergerakan nilai tukar. [newsmaker.id]

Pasangan USD/JPY tercatat kembali naik, sementara otoritas Jepang menegaskan kesiapan untuk melakukan langkah tegas apabila volatilitas nilai tukar dinilai berlebihan. Di Eropa, franc Swiss juga menunjukkan pergerakan yang defensif, dengan bank sentral Swiss membuka peluang intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan. [newsmaker.id]

Fokus Pasar ke Depan

Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan geopolitik, khususnya sinyal lanjutan mengenai hubungan AS–Iran. Selain itu, interaksi antara selera risiko global dan pergerakan imbal hasil obligasi AS akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah dolar selanjutnya. Jika optimisme terus berlanjut, tekanan terhadap dolar berpotensi bertahan dalam jangka pendek. [newsmaker.id]

Namun, analis mengingatkan bahwa perubahan sentimen dapat terjadi dengan cepat. Eskalasi ulang konflik atau perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS berpotensi mengembalikan minat investor terhadap dolar sebagai aset lindung nilai. Untuk sementara, pasar tampaknya masih berada dalam fase “risk-on”, yang membuat dolar AS berada dalam posisi defensif. [newsmaker.id]

 

Sumber: Newsmaker.id

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaa

No Comments

Post a Comment