PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Perak Bertahan Kuat di Awal April Meski Prospek Masih Diliputi Ketidakpastian
Harga perak memulai perdagangan awal April dengan pergerakan yang relatif stabil, bertahan di kisaran USD 75 per ounce pada hari pertama bulan ini. Posisi tersebut mencerminkan keberhasilan perak mempertahankan lonjakan tajam lebih dari 7% yang tercatat pada sesi sebelumnya, sekaligus membawa harga ke level tertinggi dalam dua minggu terakhir. Kenaikan ini menjadi sinyal positif di tengah tekanan berat yang menghantam pasar perak sepanjang bulan Maret.
Penguatan harga perak didorong oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Investor menilai bahwa penurunan tensi kawasan tersebut berpotensi menekan harga minyak global, yang pada akhirnya dapat mengurangi tekanan inflasi dan risiko kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral utama dunia.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut memperkuat sentimen pasar. Ia menyampaikan bahwa Amerika Serikat telah mencapai sebagian besar tujuan militernya dan akan menyerahkan penanganan lebih lanjut di kawasan Selat Hormuz kepada negara-negara lain. Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan pernyataan Presiden Masoud Pezeshkian yang menyebutkan bahwa Iran siap mengakhiri konflik apabila sejumlah persyaratan tertentu dapat dipenuhi. Kombinasi pernyataan tersebut dinilai sebagai sinyal positif yang memicu harapan akan stabilisasi situasi geopolitik global.
Meski demikian, penguatan perak di awal April belum sepenuhnya mampu menghapus tekanan besar yang dialami pada bulan sebelumnya. Sepanjang Maret, harga perak tercatat anjlok lebih dari 20%, menandai penurunan bulanan terdalam sejak September 2011. Bahkan, dibandingkan dengan puncak harga yang tercapai pada Januari, perak saat ini masih diperdagangkan hampir 40% lebih rendah. Penurunan tajam tersebut mencerminkan dampak kombinasi dari gangguan pasar energi global, meningkatnya kecemasan inflasi, serta perubahan ekspektasi kebijakan moneter.
Tekanan pada harga perak juga mencerminkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini mendorong investor dan bank sentral untuk bersikap lebih berhati-hati dan cenderung hawkish. Salah satu dampaknya adalah perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve, di mana harapan pemangkasan suku bunga pada tahun 2026 mulai berkurang. Sebelumnya, pasar sempat memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga sebelum konflik geopolitik kembali memanas.
Ke depan, meskipun perak berhasil mempertahankan penguatan pada awal April, prospek jangka pendek logam mulia ini masih dibayangi ketidakpastian. Jika ketegangan di Timur Tengah benar-benar mereda dan harga minyak mengalami koreksi lebih lanjut, perak berpotensi memperoleh dukungan tambahan. Namun, risiko inflasi yang tetap tinggi serta kebijakan moneter yang ketat dari bank sentral global diperkirakan akan membatasi ruang kenaikan harga.
Dengan kondisi tersebut, pasar perak kemungkinan akan tetap bergerak fluktuatif dalam waktu dekat. Investor cenderung bersikap selektif sambil mencermati perkembangan geopolitik, arah kebijakan bank sentral, serta indikator ekonomi global yang dapat menentukan arah harga perak selanjutnya.
Sumber: Newsmaker.id
No Comments