Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Emas Menguat 1% di Tengah Eskalasi AS–Iran, Selat Hormuz Jadi Sorotan Pasar

09:55 01 April in Gold
0 Comments
0

Harga emas mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Senin (2/3), seiring meningkatnya minat investor terhadap aset aman (safe haven) akibat memburuknya sentimen geopolitik global. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang melibatkan serangan besar AS dan Israel ke wilayah Iran, memicu kekhawatiran akan meluasnya perang regional dan mendorong pelaku pasar menghindari aset berisiko.

Pada perdagangan sore waktu Amerika Serikat, harga emas spot naik sekitar 1% ke level US$5.330,31 per ounce. Sepanjang sesi, emas sempat menyentuh US$5.419,32 per ounce, yang menjadi level tertinggi sejak akhir Januari. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS mencatat kenaikan yang lebih tajam, yakni 1,9%, dan diperdagangkan di level US$5.345,80 per ounce.

Kenaikan harga emas terjadi seiring meningkatnya permintaan aset lindung nilai setelah operasi militer terhadap Iran terus berlanjut. Laporan mengenai tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, turut memperbesar kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik yang tidak terkendali. Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada potensi gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik terpenting distribusi energi global.

Ketegangan geopolitik tersebut memicu pola klasik “risk-off” di pasar keuangan global. Indeks saham melemah pada awal perdagangan, sementara harga minyak melonjak tajam. Kondisi ini kembali menegaskan peran emas sebagai penyimpan nilai yang diminati ketika tingkat ketidakpastian meningkat.

Analis ING menilai, apabila konflik terus meluas atau pasokan energi global terganggu, harga emas berpeluang mendapatkan dorongan tambahan. Faktor pendukungnya antara lain kenaikan harga minyak, meningkatnya ekspektasi inflasi, serta real yield yang cenderung tertahan. Senada, Pepperstone menyebut pasar saat ini dihadapkan pada rentang skenario yang jauh lebih lebar, sehingga penilaian risiko menjadi semakin sulit dan mendorong pelaku pasar mengadopsi strategi defensif dengan mengurangi eksposur risiko terlebih dahulu.

Sumber: Newsmaker.id

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaa

No Comments

Post a Comment