Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Dolar AS Menguat Tajam di Tengah Ketidakpastian Global

08:27 31 March in Business
0 Comments
0

Dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan kinerja terbaiknya sejak September 2022, seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik tersebut mengguncang pasar energi dunia dan mendorong investor untuk mencari aset yang dianggap paling aman, yakni dolar AS.

Indeks Spot Dolar Bloomberg tercatat telah naik sekitar 3% sepanjang bulan ini. Penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap dolar di tengah lonjakan harga energi global. Status Amerika Serikat sebagai produsen minyak terbesar di dunia turut memperkuat daya tarik mata uangnya, terutama saat gangguan pasokan energi menjadi perhatian utama pasar internasional.

Selain faktor energi, memudarnya ekspektasi pertumbuhan ekonomi global juga berperan penting dalam penguatan dolar. Investor global cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman. “Reli dolar ini sebagian besar didorong oleh investor yang mencari perlindungan di tengah melemahnya proyeksi pertumbuhan global,” ujar Noah Buffam, ahli strategi di CIBC Capital Markets.

Situasi semakin diperburuk oleh risiko penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Gangguan pada jalur ini menyoroti tingginya ketergantungan Eropa dan Jepang terhadap impor minyak dan gas alam. Kondisi tersebut mendorong investor global untuk kembali memegang aset berbasis dolar AS.

Perubahan sentimen pasar ini memicu pembalikan signifikan dalam posisi investasi. Sebelumnya, banyak pelaku pasar memasang taruhan terhadap pelemahan dolar AS. Namun, perkiraan tersebut dengan cepat ditinggalkan. Saat ini, investor diketahui memegang lebih dari 7 miliar dolar AS dalam posisi bullish terhadap dolar, level tertinggi sejak Desember 2022.

Sejumlah bank besar global, seperti JPMorgan Chase & Co. dan Goldman Sachs, mulai meninjau ulang proyeksi mereka yang sebelumnya memperkirakan dolar akan melemah. Meski demikian, dinamika geopolitik yang sulit diprediksi membuat para analis masih berhati-hati dalam menyusun proyeksi jangka menengah hingga panjang.

Di sisi kebijakan moneter, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga tahun ini juga mulai memudar. Kekhawatiran inflasi yang kembali muncul membuat peluang pelonggaran kebijakan menjadi lebih kecil, sehingga turut menopang kekuatan dolar. Di pasar opsi, mayoritas taruhan jangka pendek masih mengunggulkan dolar AS, walaupun pandangan jangka panjang menunjukkan potensi pelemahan ke depan.

Meski dolar saat ini berada dalam tren kuat, tidak semua investor sepenuhnya optimistis. Beberapa institusi besar seperti Invesco Ltd. dan Barclays Plc memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat memicu kembali diskusi mengenai diversifikasi investasi keluar dari pasar AS. Kekhawatiran tersebut juga dikaitkan dengan ketidakpastian kebijakan politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Nathan Thooft, manajer portofolio senior di Manulife Investment Management, menilai bahwa daya tarik dolar sebagai aset lindung nilai sudah tercermin dalam harga saat ini. “Kami memperkirakan tren pelemahan dalam waktu dekat,” ujarnya, menegaskan sikap hati-hati di tengah reli dolar yang sedang berlangsung.

 

Sumber: Newsmaker.id

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaa

No Comments

Post a Comment