Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Minyak Dunia Menguat, Kekhawatiran Inflasi Energi Kembali Muncul

08:15 12 March in Commodity
0 Comments
0

Harga minyak dunia kembali menguat untuk hari kedua berturut-turut di tengah volatilitas pasar yang tinggi. Penguatan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik akibat perang Iran yang belum mereda, sehingga memunculkan kembali kekhawatiran akan krisis inflasi energi global. Sentimen risiko geopolitik dinilai lebih dominan dibandingkan langkah negara-negara maju yang berupaya meredam harga melalui rilis cadangan minyak darurat.

Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat mencatat lonjakan tajam setelah menguat signifikan pada sesi sebelumnya. Dari sisi politik dan diplomasi, Iran menyampaikan kepada para perantara regional bahwa peluang gencatan senjata hanya terbuka jika Amerika Serikat memberikan jaminan bahwa Washington dan Israel tidak akan kembali melancarkan serangan di masa depan. Namun demikian, pasar menilai syarat tersebut kecil kemungkinan diterima, sehingga harapan berakhirnya konflik dalam waktu dekat semakin menipis.

Upaya menahan laju kenaikan harga sempat memberikan jeda sementara. Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana pelepasan 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) sebagai bagian dari aksi global untuk menstabilkan harga energi. Jumlah ini disebut hampir mencapai setengah dari total cadangan strategis AS saat ini. Sehari sebelumnya, Badan Energi Internasional (IEA) juga telah menyepakati rilis darurat sebesar 400 juta barel—angka yang melampaui pelepasan cadangan pasca invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Meski demikian, pasar menilai masalah utama belum terselesaikan. Selat Hormuz, jalur laut vital yang biasa mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global, hingga kini masih nyaris tertutup bagi pelayaran komersial. Investor terus mencermati kemungkinan normalisasi arus perdagangan di kawasan tersebut. Ketegangan keamanan semakin nyata setelah dilaporkan tiga kapal terkena proyektil yang diduga berkaitan dengan serangan di sekitar Selat Hormuz dan Teluk Persia.

Penutupan efektif jalur strategis tersebut mendorong produsen minyak di kawasan Teluk memangkas produksi, sekaligus mengerek harga minyak mentah, gas alam, serta produk turunan seperti diesel. Perang yang telah memasuki pekan kedua ini pun memicu kembali kekhawatiran akan terjadinya krisis inflasi energi secara global, terutama jika gangguan pasokan berlangsung lebih lama.

Westpac menilai bahwa apabila konflik terus berlanjut tanpa arah penyelesaian yang jelas dan jumlah produksi yang dihentikan (shut-in) terus bertambah, harga minyak Brent berpotensi bergerak dalam “kisaran baru” yang lebih tinggi dalam waktu dekat. Sejalan dengan itu, sejumlah negara mulai merinci kontribusi masing-masing dalam rilis cadangan darurat. Jepang dikabarkan menyiapkan pelepasan besar dari stok strategisnya, disusul Inggris dan Korea Selatan dengan porsi tersendiri, sementara Kanada meminta perusahaan minyak domestik ikut melepas sebagian cadangan.

Secara umum, pasar tampak mulai “menerima” rilis cadangan darurat sebagai faktor penahan kenaikan harga dalam jangka pendek. Namun langkah tersebut dinilai belum cukup untuk menghapus premi risiko yang melekat selama konflik masih berlangsung dan Selat Hormuz belum kembali berfungsi normal.

Dari sisi politik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyatakan keyakinannya bahwa perang dapat segera berakhir. Meski demikian, ia juga menegaskan AS akan tetap bertahan hingga target strategisnya tercapai, sehingga narasi de-eskalasi konflik masih belum sepenuhnya jelas di mata pelaku pasar.

Pada perdagangan Asia Kamis (12/3), kontrak WTI untuk pengiriman April diperdagangkan menguat di kisaran USD 91 per barel. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Mei sebelumnya ditutup menguat kuat di sekitar USD 92 per barel, mencerminkan masih tingginya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran pasokan global.

Sumber” Newsmaker.id

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaa

No Comments

Post a Comment