Blog

EWF_CYBER 2 | Minyak Menguat di Tengah Sinyal Berubah dari AS soal Situasi Selat Hormuz

08:24 11 March in Commodity
0 Comments
0

Harga minyak dunia kembali menguat setelah melalui sesi perdagangan yang sangat bergejolak, dipicu oleh pernyataan yang berubah-ubah dari pemerintah Amerika Serikat terkait ketegangan dengan Iran serta status keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Volatilitas pasar tampak jelas ketika West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak hingga 5,3% menjadi US$87,89 per barel, setelah sehari sebelumnya anjlok tajam 12%.

Pergerakan harga yang ekstrem ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap berita dan komentar politik sepanjang konflik Iran–AS terus berkembang. Situasi semakin kacau setelah Menteri Energi AS, Chris Wright, mengunggah dan kemudian menghapus klaim bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal tanker minyak melewati Selat Hormuz. Beberapa jam kemudian, Gedung Putih membantah adanya operasi tersebut, memicu kebingungan lebih lanjut di kalangan pelaku pasar.

Kebingungan serupa juga muncul dari rangkaian unggahan Presiden Donald Trump di media sosial, termasuk tentang dugaan adanya ranjau di sekitar jalur pelayaran. Trump menyatakan bahwa konflik dengan Iran kemungkinan akan mereda “segera,” tetapi menegaskan bahwa hal tersebut tidak akan terjadi pekan ini, di tengah tekanan besar pada ekonomi dan dinamika politik dalam negeri AS.

Hormuz: Jalur Vital yang Sedang Terganggu

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia, menangani sekitar 20% pergerakan minyak global. Gangguan nyata terhadap lalu lintas tanker di kawasan tersebut menyebabkan sejumlah produsen besar memangkas output mereka, yang pada akhirnya mendorong harga energi—termasuk minyak mentah dan gas alam—naik.

Laporan dari para analis menyebutkan lalu lintas tanker telah menurun tajam. Pelaku pasar kini menantikan pemulihan arus pelayaran normal sebagai indikator utama apakah premi risiko pasokan masih akan bertahan atau mereda dalam waktu dekat.

Update Harga Terbaru

Pada pembaruan sesi perdagangan terakhir, WTI untuk pengiriman April naik 4,9% menjadi US$87,55 per barel pada pukul 06.12 waktu Singapura. Sementara itu, Brent untuk penyelesaian Mei tercatat turun 11% pada sesi sebelumnya, ditutup di level US$87,80 per barel. Besarnya ayunan harga intraday menegaskan bahwa volatilitas masih menjadi ciri utama pasar minyak sejak konflik di kawasan Hormuz meningkat.

Sumber: Newsmaker.id

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaa

No Comments

Post a Comment