PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Inflasi Jasa Menahan Laju Poundsterling di Tengah Ketidakpastian Kebijakan BoE
Poundsterling (GBP) kembali bergerak datar terhadap dolar AS (USD) menjelang akhir Februari 2026, terjebak di kisaran 1,3500 akibat kekhawatiran pasar terhadap inflasi jasa Inggris yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Tekanan ini muncul setelah pernyataan Gubernur Bank of England (BoE), Andrew Bailey, yang menegaskan bahwa keputusan suku bunga bulan Maret masih menjadi “pertanyaan yang benar-benar terbuka”. [fxstreet-id.com]
Inflasi Jasa Tetap Tinggi: Tantangan Utama BoE
Dalam pemaparan di depan Komite Perbendaharaan Parlemen Inggris, Bailey menyoroti bahwa inflasi harga jasa mencapai 4,4% pada Januari, lebih tinggi dari prakiraan BoE di level 4,1%. Kenaikan ini memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi domestik belum cukup stabil untuk memungkinkan pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Kepala Ekonom BoE, Huw Pill, juga menegaskan pentingnya kehati-hatian dengan mengingatkan agar pasar tidak “tertipu” oleh penurunan inflasi utama (headline) yang bergerak menuju target 2%. Hal ini menunjukkan bahwa komponen inflasi inti, terutama pada sektor jasa, tetap menjadi faktor penentu arah kebijakan suku bunga berikutnya.
GBP/USD Tertahan, Sentimen Pasar Masih Rapuh
Pergerakan GBP/USD sepanjang pekan menunjukkan konsolidasi di area Exponential Moving Average (EMA) 50 hari, sekitar 1,3520–1,3500, dengan pola candle yang beragam selama dua minggu terakhir. Kondisi ini memperlihatkan keragu-raguan pasar setelah terjadinya aksi jual dari puncak akhir Januari di area 1,3870.
Pelaku pasar kini menilai bahwa selama tekanan inflasi jasa tetap tinggi, BoE tidak memiliki ruang yang cukup untuk menurunkan suku bunga secara agresif. Dengan pemungutan suara ketat 5–4 pada pertemuan Februari, BoE memilih mempertahankan suku bunga di 3,75%, memperlihatkan adanya ketidaksepakatan internal mengenai arah kebijakan ke depan.
Data Ekonomi Inggris yang Solid Menahan Penurunan Lebih Lanjut
Meski tertekan oleh inflasi jasa, perekonomian Inggris juga menunjukkan sinyal positif. Data PMI Februari memperlihatkan percepatan pertumbuhan sektor swasta tercepat sejak April 2024. Selain itu, penjualan ritel Januari juga melampaui ekspektasi, memberikan sedikit dukungan bagi Poundsterling untuk bertahan di level saat ini.
Namun demikian, pasar tetap fokus pada bagaimana inflasi jasa akan berkembang dalam dua bulan ke depan, karena komponen ini menjadi indikator paling sensitif terhadap kondisi ekonomi domestik dan pasar tenaga kerja.
Dampak dari Faktor Eksternal: Fed Masih Hawkish
Dari sisi Amerika Serikat, risalah FOMC Januari menunjukkan bahwa sebagian pejabat Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi AS kembali menguat. Fed sendiri mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%, yang ikut menahan laju penguatan Pound akibat tekanan dolar yang relatif stabil.
Selain itu, kebijakan tarif baru AS di bawah administrasi Trump yang dikenakan pada berbagai produk global turut mengurangi selera risiko pasar, secara tidak langsung memberi dukungan bagi dolar sebagai aset aman.
Kesimpulan: Pound Terjebak di Fase Konsolidasi
Kombinasi inflasi jasa yang masih tinggi, ketidakpastian suku bunga BoE, dan tekanan eksternal dari kebijakan Fed membuat Poundsterling tertahan dalam pergerakan yang sempit. Tanpa perbaikan signifikan pada inflasi inti, terutama sektor jasa, ruang penguatan GBP dalam jangka pendek tampak terbatas.
Pasar kini menanti rilis data ekonomi selanjutnya serta petunjuk baru dari bank sentral, baik BoE maupun The Fed, untuk menentukan arah GBP/USD dalam beberapa minggu ke depan.
Sumber: Newsmaker.id
No Comments