PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Harga Minyak Kembali Menguat, Pasar Waspadai Sinyal Ketegangan dari Iran
Harga minyak dunia kembali mencatat penguatan dan menjadi perhatian pelaku pasar global. Kenaikan ini terjadi di tengah munculnya kembali ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah—wilayah yang selama ini menyumbang porsi besar produksi energi dunia.
Pada perdagangan awal Februari 2026, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) bergerak naik mendekati level USD 64 per barel. Penguatan tersebut melanjutkan lonjakan sekitar 1,7% yang terjadi pada sesi sebelumnya. Sementara itu, harga minyak Brent berhasil ditutup di atas USD 67 per barel, menandakan sentimen pasar mulai condong ke arah aset berisiko
Sentimen bullish pasar minyak kali ini banyak dipicu oleh laporan insiden keamanan di kawasan Laut Arab. Amerika Serikat dilaporkan menembak jatuh sebuah drone milik Iran yang beroperasi di dekat kapal induk AS. Meski belum berkembang menjadi konflik terbuka, peristiwa ini cukup untuk meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap risiko geopolitik lanjutan. [
Pihak Gedung Putih menegaskan bahwa jalur diplomasi masih terbuka. Presiden AS Donald Trump disebut tetap mendorong penyelesaian melalui dialog, dan pembicaraan antara Washington dan Teheran dijadwalkan akan tetap berlangsung. Pernyataan ini sedikit meredakan kekhawatiran, namun pasar masih menempatkan “premi risiko” pada harga minyak sebagai langkah antisipasi.
Selain faktor geopolitik, penguatan harga minyak juga didorong oleh data fundamental dari Amerika Serikat. Laporan American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah AS hingga sekitar 11,1 juta barel dalam sepekan terakhir. Jika penurunan ini dikonfirmasi oleh data resmi pemerintah, maka akan menjadi penyusutan stok terbesar sejak pertengahan tahun lalu.
Penurunan stok ini memberi sinyal bahwa permintaan masih cukup kuat, terutama di tengah musim dingin dan aktivitas industri yang tetap berjalan. Kondisi tersebut memperkuat sentimen positif pasar terhadap prospek harga minyak dalam jangka pendek.
Timur Tengah Tetap Jadi Fokus Risiko
Kawasan Timur Tengah terus menjadi sorotan utama investor energi global. Sekitar sepertiga pasokan minyak dunia berasal dari wilayah ini, sehingga setiap gejolak politik atau militer berpotensi langsung berdampak pada keseimbangan pasokan global. Sejak bulan lalu, kekhawatiran atas stabilitas kawasan telah mendorong harga minyak bergerak lebih volatil, meskipun di saat yang sama terdapat indikasi pasokan global mulai mengalami kelebihan.
Menanti Arah Selanjutnya
Pada perdagangan pagi di kawasan Asia, WTI untuk pengiriman Maret tercatat naik sekitar 0,9% dan bergerak di kisaran USD 63,8 per barel, sementara Brent untuk kontrak bulan berikutnya menguat lebih dari 1% dan bertahan di atas USD 67 per barel. Pelaku pasar kini menanti apakah penguatan ini hanya bersifat sementara akibat sentimen geopolitik, atau menjadi awal fase kenaikan yang lebih panjang.
Ke depan, pergerakan harga minyak diperkirakan akan sangat bergantung pada dua faktor utama: perkembangan hubungan AS–Iran dan konfirmasi data persediaan minyak global. Selama ketidakpastian geopolitik masih membayangi, volatilitas harga minyak berpotensi tetap tinggi.
Sumber: Newsmaker
No Comments