PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta – Pasokan Global Melebar, Harga Brent Tertekan!
Tekanan Pasokan Global Semakin Meningkat
Harga minyak Brent baru-baru ini ditentukan oleh dinamika fundamental pasar, di mana kelebihan pasokan global menjadi faktor dominan. Laporan dari International Energy Agency (IEA) memperkirakan bahwa produksi minyak dunia bakal meningkat sekitar 3,1 juta barel per hari (bph) selama tahun 2025. Sementara itu, pertumbuhan permintaan diperkirakan jauh melambat, menyebabkan surplus tegas di pasar energi global. [newsmaker.id], [moderndiplomacy.eu]
Jumlah kelebihan pasokan ini menimbulkan tekanan langsung terhadap harga Brent. Meskipun muncul kekhawatiran potensi gangguan dari sisi geopolitik—seperti sanksi terhadap Rusia—pasar tetap mempertimbangkan fundamental pasokan dan permintaan yang sedang timpang. [newsmaker.id]
OPEC+ Tetap Tambah Produksi
Kelompok produsen OPEC+ juga menjadi salah satu actornya. Selama satu tahun terakhir, mereka menerapkan kebijakan untuk melonggarkan pemangkasan produksi. Sebagian besar bulan dalam tahun 2025, OPEC+ melakukan penambahan output secara bertahap—sejak April lalu, mereka menambahkan produksi sekitar 310 ribu bph, dan diperkirakan masih akan terus bertambah tahun ini dan seterusnya. [iea.org], [moderndiplomacy.eu], [cnbc.com]
Rencana ini bermula dari strategi untuk merebut pangsa pasar dan mempertahankan kehadiran mereka di pasar global, meski hal tersebut menyebabkan tekanan besar terhadap harga Brent. [cnbc.com], [oilprice.com]
Permintaan Global yang Lesu
Di sisi permintaan, IEA juga mencatat adanya tren pelemahan. Pertumbuhan permintaan minyak global hanya sekitar 0.74 juta bph sepanjang 2025, turun dibandingkan angka historis. Hal ini disebabkan oleh penurunan konsumsi di negara maju (OECD) yang mencapai -120 ribu bph dan -240 ribu bph sepanjang tahun. Selain itu, perlambatan di negara berkembang, termasuk China, juga turut menahan laju konsumsi. [iea.org], [moderndiplomacy.eu] [iea.org]
Secara keseluruhan, ketidakseimbangan antara pasokan yang meningkat pesat dan permintaan yang stagnan memicu penumpukan inventori dalam skala global.
Inventori dan Floating Storage Meningkat
Fenomena surplus terlihat jelas pada data inventori minyak. IEA mencatat adanya peningkatan signifikan pada persediaan global, termasuk stok minyak di atas kapal (floating storage). Meskipun belum mencapai level maksimum 2020, pergerakan harga Brent telah mencerminkan tekanan bearish dari kondisi ini. [iea.org], [moderndiplomacy.eu], [eia.gov]
Di sisi lain, data dari EIA juga menunjukkan bahwa harga Brent untuk November rata-rata $64 per barel, turun tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didorong surplus persediaan dan pelemahan permintaan. [eia.gov]
Teknisi: Brent Saat Ini di Zona Dukungan
Secara teknikal, Brent sempat rebound dari zona dukungan sekitar US$63,30–63,50, namun jika gagal mempertahankan level ini, potensi turun lebih dalam ke kisaran US$63 atau bahkan lebih rendah terbuka lebar. Saat artikel ini ditulis, Brent berada di sekitar US$63,49 per barel. [newsmaker.id]
Perkiraan Sentimen Pasar:
- Resistensi: US$63,64 dan US$63,79
- Support: US$63,34 dan US$63,19 [newsmaker.id]
Penguatan di atas zona resistance dapat menandakan upaya rebound, sementara breakdown di bawah support berisiko membuka jalan bagi koreksi lanjutan.
Proyeksi Harga di Masa Mendatang
Menurut EIA, surplus minyak ini kemungkinan membengkak lebih lanjut—diperkirakan inventory global bisa bertambah hingga lebih dari 2 juta barel per hari sepanjang 2026. Kondisi ini diperkirakan akan menekan harga Brent menuju rata-rata sekitar US$55 per barel pada kuartal I 2026, dan tetap rendah hingga akhir tahun. [eia.gov]
IEA memperkirakan surplus global bisa mencapai 3,8 juta bph pada 2026, artinya tekanan pada harga Brent berpotensi berlanjut jika tidak ada intervensi produksi. [iea.org], [moderndiplomacy.eu]
Faktor Penyokong: Shadow dari China dan OPEC+
Meski demikian, beberapa faktor dapat menjadi penyangga harga:
- China: Negara ini masih terus membangun stok strategis, yang membantu menyerap sebagian pasokan berlebih. [eia.gov], [moderndiplomacy.eu]
- Kebijakan OPEC+: Jika melihat harga terus menurun, kelompok ini bisa menunda rencana peningkatan output atau bahkan membalikkan kebijakan secara fleksibel. [eia.gov], [oxfordenergy.org]
- Geopolitik: Gangguan layang pada pasokan—misalnya eskalasi sanksi ke Rusia, Venezuela, atau konflik lain—dapat menambah risiko dan menjadi pemicu harga rebound.
Simpulan dan Implikasi
Secara keseluruhan, pasar minyak global kini sedang berada di tengah fase surplus yang cukup intens. Kombinasi antara lonjakan pasokan (produksi tinggi dari OPEC+ dan non-OPEC), permintaan yang lesu, serta penumpukan inventori, menciptakan sentimen bearish kuat pada harga Brent. Tren ini terindikasi akan berlanjut hingga awal 2026 jika tidak ada perubahan signifikan dalam kebijakan produksi atau permintaan global.
- Pelaku pasar dan investor harus mengamati dengan cermat:
- Kebijakan OPEC+ terkait pangkas produksi
- Data inventory dan persediaan floating storage
- Kinerja permintaan, khususnya dari China dan negara maju
- Faktor risiko geopolitik yang bisa menjadi katalis positif
- Dari sudut teknis, zona dukungan US$63 menjadi level krusial: bertahan di atas berarti peluang rebound menanti, sementara tembus rentan memicu koreksi ke US$60–62 atau lebih rendah.
Akhirnya, meskipun prediksi EIA dan IEA menunjukkan tren penurunan harga, sinyal dari China dan potensi intervensi OPEC+ menjadi pengaman tersendiri yang layak diwaspadai dalam menjaga stabilitas pasar minyak.
Sumber: Newsmaker.id
No Comments