PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta – Minyak Naik, China Siap Gas Dukungan 2026
🛢️ Kenaikan Harga Minyak: Pasar Menunggu Kepastian
Harga minyak global menunjukkan tren positif akhir-akhir ini, didorong oleh sejumlah faktor utama. Di satu sisi, permintaan dari China meningkat. Di sisi lain, isu kelebihan pasokan masih membayangi. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian, dengan pelaku pasar memilih sikap wait-and-see untuk menentukan arah selanjutnya. [newsmaker.id]
Permintaan China: Penopang Pertumbuhan
China, sebagai konsumen minyak terbesar kedua di dunia, kembali menjadi katalis pasar. Data terbaru menunjukkan bahwa aktivitas kilangnya meningkat, terutama pada bulan November—melampaui tingkat konsumsi pada periode yang sama tahun sebelumnya. [newsmaker.id]
Meskipun demikian, indikator lain memperlihatkan gejala pelambatan ekonomi domestik China, termasuk sektor manufaktur dan ekspor. Namun, optimisme terhadap permintaan minyak tetap menjadi sentimen positif yang menopang harga.
Surplus Global: Ancaman yang Mengintai
Di tengah pemulihan permintaan China, pasar global masih dihadapkan pada masalah pasokan berlebih. Produksi minyak terus berlangsung, bahkan ketika konsumsi belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini membuat pasar penuh ketidakpastian. [newsmaker.id], [newsmaker.id]
Menurut laporan dari Goldman Sachs, pada tahun 2025 dan 2026, pasar minyak akan menghadapi surplus besar: sekitar 800 ribu barel per hari (bph) di 2025, meningkat menjadi 1,4 juta bph di 2026. Proyeksi ini diperburuk oleh keputusan OPEC+ untuk melonggarkan pembatasan pasokan secara signifikan. [newsmaker.id]
Proyeksi Harga Minyak hingga 2026 oleh Goldman Sachs
Goldman Sachs memperkirakan harga rata-rata Brent pada 2026 akan merosot sekitar USD 56 per barel (untuk Brent) dan USD 52 per barel (untuk WTI). [newsmaker.id], [newsmaker.id]
Penurunan ini dipicu oleh dua faktor utama:
- Kelebihan pasokan berkelanjutan, terutama dari negara-negara non-OPEC yang meningkatkan produksi pasca pandemi.
- Hanya sedikit proyek baru di sektor hulu yang mulai operasi—sebagai dampak dari pengurangan investasi selama 15 tahun terakhir. [newsmaker.id]
Goldman memprediksi potensi rebound pada tahun 2027 ketika produksi non-OPEC menurun, dan harga bisa menyentuh kisaran USD 80–76 per barel pada 2028. [newsmaker.id], [newsmaker.id]
Risiko Turbulensi Menjelang dan Setelah 2026
Meski diharapkan pemulihan, terdapat beberapa skenario negatif:
- Jika pasokan non-OPEC tetap tinggi dan ekonomi global melambat, harga bisa turun ke level USD 40-an per barel pada 2026–2027. [newsmaker.id]
- Sebaliknya, gangguan pasokan seperti sanksi terhadap produsen besar (misal Rusia atau Iran), atau pemotongan produksi OPEC+ secara mendadak, dapat mendorong harga naik signifikan.
Ketidakpastian geopolitik—termasuk konflik, sanksi, atau gangguan rantai pasok—menjadi pemicu volatilitas jangka pendek di pasar minyak.
Apa yang Membuat Pasokan Bertahan Tinggi?
Beberapa penyebab utama melimpahnya pasokan:
- Proyek jangka panjang yang tertunda selama pandemi dan sekarang mulai beroperasi, terutama di Amerika Serikat dan Brasil. [newsmaker.id]
- OPEC+ memutuskan untuk secara bertahap menaikkan output sejak April, memperluas pasokan global. [newsmaker.id]
- Minimnya proyek baru di sektor hulu sebagai efek dari menurunnya investasi jangka panjang.
Kondisi ini menciptakan tekanan struktural pada harga minyak selama beberapa tahun mendatang.
Dampak Ekonomi Global dan Kebijakan Energi
Surplus minyak bukan hanya isu pasar. Ini memiliki implikasi luas terhadap ekonomi dan strategi energi global:
- Negara produsen mengalami pengurangan pendapatan yang berdampak pada anggaran negara dan kebijakan fiskal.
- Perusahaan energi menghadapi tekanan margin dan mungkin menunda atau membatalkan proyek eksplorasi baru.
- Konsumen (negara maju) menikmati harga energi yang lebih stabil dan rendah, namun pelaku industri energi alternatif terganggu karena harga komoditas fosil tetap kompetitif.
Kesimpulan: Sentimen Cermat dan Volatilitas Tinggi
Mengutip pemikiran Keshav Lohiya dari HiLo Analytics, meski ada gangguan geopolitik, pasar tampak cukup dingin; risiko kelebihan pasokan menjadi pusat perhatian. Pelaku pasar kini lebih fokus pada data produksi, aktivitas kilang, dan sinyal dari OPEC+. [newsmaker.id]
China tetap menjadi pendukung utama harga melalui peningkatan permintaan energi, namun kekhawatiran atas rendahnya permintaan di kawasan lain serta surplus global tetap menjadi bayang-bayang. Goldman Sachs memperingatkan bahwa dari 2025 hingga 2026, pasar menghadapi tekanan berat, sebelum potensi pemulihan terjadi di tahun 2027–2028.
Rangkuman Tren 2025–2026:
| Faktor | Deskripsi |
|---|---|
| Permintaan China | Tinggi, mengimbangi surplus sebagian |
| Surplus Pasokan Global | 800 ribu bph (2025), 1,4 juta bph (2026) ⬆️ |
| Harga Forecast | Brent ~USD 56/barel, WTI ~USD 52/barel (2026) |
| Risiko Geopolitik | Sanksi dan gangguan bisa naikkan harga secara tiba-tiba |
| Recovery 2027–2028 | Harga bisa rebound ke kisaran USD 76–80 per barel |
Penutup
Pasar minyak global kini berada di persimpangan penting. Permintaan China mendukung kenaikan jangka pendek, namun surplus pasokan membayangi harga dalam jangka panjang hingga 2026. Investor dan analis disarankan untuk memantau terus data pasokan, kebijakan OPEC+, serta perkembangan geopolitik—karena faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu arah minyak hingga mendekati tahun 2027.
Sumber : Newsmaker.id
No Comments