PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta – Minyak Terjun: Apakah Dunia Kembali ke Era Surplus?
Harga Minyak Terus Melemah
Harga minyak global kembali mencatat penurunan pada awal November 2025. Kontrak berjangka Brent ditutup turun 0,22% ke $63,38 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 0,29% ke $59,43 per barel. Penurunan ini menandai bulan ketiga berturut-turut harga minyak melemah, mencerminkan tekanan yang semakin besar dari sisi fundamental pasar. Faktor utama yang memicu tren ini adalah kekhawatiran akan kelebihan pasokan (oversupply) yang semakin nyata, di tengah lemahnya permintaan global.
Ancaman Kelebihan Pasokan yang “Terbuka”
Pasar minyak saat ini menghadapi ancaman surplus yang disebut sebagai salah satu yang paling jelas dalam sejarah. OPEC+ dan negara-negara non-OPEC terus meningkatkan produksi, meskipun permintaan tidak tumbuh sesuai ekspektasi. Menurut analis John Kilduff dari Again Capital, kondisi ini menjadi “angin sakal” bagi harga minyak, karena setiap kenaikan produksi memperburuk ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan.
Selain itu, stok minyak mentah AS naik 5,2 juta barel menjadi 421,2 juta barel pekan lalu, menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA). Lonjakan persediaan ini menandakan lemahnya konsumsi domestik, diperburuk oleh rendahnya tingkat operasi kilang akibat musim perawatan yang signifikan.
Permintaan Global Lesu
Permintaan minyak global juga menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Hingga awal November, permintaan hanya naik 850.000 barel per hari, di bawah proyeksi JPMorgan sebesar 900.000 bph. Indikator frekuensi tinggi, seperti aktivitas perjalanan dan pengiriman kontainer, mengonfirmasi bahwa konsumsi minyak di AS tetap lesu. Faktor ini semakin menekan harga, karena pasar kehilangan salah satu pilar penopang utama.
Di sisi lain, Arab Saudi—pengekspor minyak terbesar dunia—memangkas tajam harga jual resmi untuk pembeli Asia pada Desember. Langkah ini mencerminkan strategi defensif menghadapi pasar yang pasokannya berlimpah, sekaligus mengantisipasi persaingan harga yang lebih ketat.
Dampak Geopolitik dan Sanksi
Meski tekanan utama berasal dari fundamental, faktor geopolitik tetap memengaruhi dinamika harga. Sanksi terbaru terhadap perusahaan minyak terbesar Rusia dua pekan lalu memicu kekhawatiran gangguan pasokan. Namun, efeknya terbatas karena peningkatan produksi OPEC+ dan negara lain menutupi potensi kekurangan. Operasi luar negeri Lukoil dilaporkan menghadapi kesulitan akibat sanksi tersebut, tetapi belum cukup untuk mengubah tren bearish di pasar.
Proyeksi Harga: Tren Turun Berlanjut
Menurut Capital Economics, tekanan turun pada harga minyak akan tetap dominan. Lembaga ini memproyeksikan harga minyak berada di bawah konsensus, yakni sekitar $60 per barel pada akhir 2025 dan $50 per barel pada akhir 2026. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi bahwa surplus pasokan akan berlanjut, sementara pemulihan permintaan berjalan lambat.
Apakah Dunia Kembali ke Era Surplus?
Melihat tren saat ini, pasar minyak tampaknya bergerak menuju era surplus yang berkepanjangan. Kombinasi antara peningkatan produksi, lemahnya permintaan, dan stok yang terus bertambah menciptakan kondisi yang mirip dengan periode oversupply sebelumnya. Dampaknya tidak hanya pada harga, tetapi juga pada strategi negara produsen dan perusahaan energi global. Mereka harus menyesuaikan kebijakan produksi, harga, dan investasi untuk bertahan dalam lingkungan pasar yang semakin kompetitif.
Sumber: Newsmaker.id
No Comments