PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta – Emas Tergelincir Tipis di Tengah Ancaman Tarif Trump terhadap BRICS
Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan Perdagangan AS Jadi Pemicu
Harga emas mengalami penurunan tipis pada awal pekan Juli 2025, dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan perubahan arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10% terhadap negara-negara yang berpihak pada kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan).
Ancaman ini langsung berdampak pada penguatan dolar AS, yang secara historis memiliki hubungan terbalik dengan harga emas. Ketika dolar menguat, harga emas cenderung melemah karena logam mulia ini menjadi lebih mahal bagi pembeli internasional.
Harga Emas Turun, Tapi Masih dalam Tren Positif Tahunan
Pada perdagangan terakhir, harga emas batangan turun hingga 0,9% dan diperdagangkan mendekati level 3.306 dolar AS per ons. Sementara itu, harga emas spot tercatat turun 0,8% menjadi 3.309,31 dolar AS per ons pada pukul 11:05 pagi waktu Singapura.
Meski mengalami koreksi jangka pendek, secara tahunan harga emas masih mencatatkan kenaikan lebih dari 25% sejak awal tahun. Kenaikan ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk kekhawatiran global, meningkatnya permintaan dari bank sentral, serta aliran dana masuk ke Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis emas.
Ancaman Tarif 100% Jika BRICS Tinggalkan Dolar
Trump tidak hanya mengancam tarif 10%, tetapi juga menyatakan kemungkinan menerapkan tarif hingga 100% terhadap negara-negara BRICS jika mereka memutuskan untuk meninggalkan dolar AS dalam perdagangan bilateral.
Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk mempertahankan dominasi dolar dalam sistem keuangan global. Namun, ancaman tersebut justru menambah ketidakpastian di pasar, yang biasanya menjadi pemicu naiknya permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Ironisnya, dalam jangka pendek, ketidakpastian ini justru membatasi minat terhadap emas karena investor menunggu kejelasan arah kebijakan.
Fokus Pasar: Tenggat Tarif dan Negosiasi Dagang
Investor kini mengalihkan perhatian pada tenggat waktu penerapan tarif yang dijadwalkan pada 9 Juli. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memberi sinyal bahwa masih ada kemungkinan perpanjangan waktu negosiasi. Di sisi lain, Menteri Perdagangan Howard Lutnick menyatakan bahwa tarif akan diberlakukan secara bertahap mulai 1 Agustus.
Ketidakpastian ini membuat pasar cenderung berhati-hati. Banyak pelaku pasar memilih untuk menunggu kepastian sebelum mengambil posisi besar, baik di pasar emas maupun di aset lainnya.
Logam Mulia Lain Ikut Melemah
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya seperti perak, paladium, dan platinum juga mengalami pelemahan. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar logam mulia bersifat menyeluruh, bukan hanya terbatas pada emas.
Kenaikan dolar AS sebesar 0,1% turut memperkuat tekanan terhadap seluruh komoditas yang dihargakan dalam mata uang tersebut. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih likuid atau berisiko rendah, seperti obligasi pemerintah AS.
Emas Masih Jadi Pelindung Nilai Jangka Panjang
Meskipun harga emas mengalami penurunan dalam jangka pendek, banyak analis tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang logam mulia ini. Emas masih dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan risiko geopolitik, terutama di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.
Permintaan dari bank sentral dunia juga terus meningkat, menunjukkan bahwa institusi keuangan besar masih melihat emas sebagai aset strategis. Selain itu, aliran dana ke ETF emas menunjukkan bahwa investor ritel dan institusional masih memiliki minat tinggi terhadap logam ini.
Kesimpulan: Pasar Menanti Kepastian
Penurunan harga emas baru-baru ini lebih mencerminkan reaksi pasar terhadap ketidakpastian kebijakan perdagangan AS dan penguatan dolar, daripada perubahan fundamental dalam permintaan emas itu sendiri.
Dengan tenggat waktu tarif yang semakin dekat dan ancaman tarif besar terhadap BRICS, pasar akan terus memantau perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi AS. Dalam jangka pendek, volatilitas harga emas mungkin akan tetap tinggi. Namun dalam jangka menengah hingga panjang, emas masih memiliki daya tarik sebagai aset lindung nilai di tengah dunia yang semakin tidak pasti.
Sumber: Dowjonesnewswires.com, Newsmaker
No Comments