Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta – Harga Emas Tertekan oleh Optimisme Dagang dan Kenaikan Yield Obligasi AS

01:47 24 July in Gold
0 Comments
0

Emas Kehilangan Daya Tarik Safe Haven

Harga emas mengalami tekanan signifikan pada Selasa, 8 Juli 2025, seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan negara-negara mitranya. Sebagai aset safe haven, emas biasanya diminati saat ketidakpastian ekonomi meningkat. Namun, ketika sentimen risiko membaik, minat terhadap emas cenderung menurun.

Pada perdagangan hari itu, harga emas spot turun 0,4% menjadi $3.322,93 per ons, sementara emas berjangka AS melemah 0,3% ke $3.332,30. Penurunan ini mencerminkan pergeseran minat investor dari aset lindung nilai ke instrumen yang lebih berisiko, seperti saham dan obligasi.

Yield Obligasi dan Dolar AS Menguat

Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua minggu. Kenaikan yield ini membuat emas—yang tidak memberikan imbal hasil—menjadi kurang menarik bagi investor.

Selain itu, penguatan Indeks Dolar AS sebesar 0,2% turut memperburuk tekanan terhadap logam mulia ini. Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menurunkan permintaan global.

Negosiasi Dagang AS dengan Jepang dan Korea Selatan

Optimisme pasar juga didorong oleh pernyataan dari Jepang dan Korea Selatan yang menyatakan kesiapannya untuk bernegosiasi dengan AS guna mengurangi dampak tarif tinggi yang direncanakan Presiden Donald Trump mulai 1 Agustus. Trump sebelumnya memperingatkan bahwa 14 negara akan dikenai tarif lebih tinggi, namun memberikan waktu tiga minggu untuk negosiasi.

Peter Grant, Wakil Presiden di Zaner Metals, menyatakan bahwa fokus pasar saat ini tertuju pada pembicaraan dagang menjelang tenggat waktu 9 Juli. “Meski tekanan dari pemerintahan Trump meningkat, optimisme terkait kesepakatan membuat sentimen risiko kembali, sehingga menekan harga emas,” ujarnya.

Antisipasi Risalah Rapat The Fed

Selain perkembangan geopolitik, investor juga menantikan risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan rilis pada Rabu pekan ini. Risalah tersebut diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.

Hamad Hussain dari Capital Economics menambahkan bahwa ancaman inflasi akibat tarif kemungkinan akan membuat The Fed menunda pemangkasan suku bunga hingga tahun depan. “Hal ini bisa menahan harga emas dalam jangka pendek,” katanya.

Pasar saat ini memperkirakan total penurunan suku bunga sebesar 50 basis poin hingga akhir 2025, dengan ekspektasi pemangkasan pertama dimulai pada bulan Oktober.

Pergerakan Logam Mulia Lainnya

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot turun 0,5% ke $36,57 per ons, platina melemah 0,8% ke $1.359,97, dan palladium turun 0,2% ke $1.108,77. Penurunan ini mencerminkan tren umum pelemahan di sektor logam mulia akibat membaiknya sentimen risiko global.

Kesimpulan: Emas dalam Tekanan, Tapi Belum Tumbang

Meskipun harga emas saat ini berada dalam tekanan akibat optimisme dagang dan kenaikan yield obligasi, logam mulia ini tetap memiliki peran penting sebagai aset lindung nilai dalam portofolio investasi. Ketidakpastian global yang masih membayangi, termasuk potensi eskalasi tarif dan arah kebijakan moneter AS, bisa kembali mengangkat harga emas dalam waktu dekat.

Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap perkembangan fundamental dan teknikal pasar sebelum mengambil keputusan investasi. Dalam jangka menengah hingga panjang, emas masih berpotensi menjadi pilihan yang solid, terutama jika ketidakpastian kembali meningkat.

Sumber: Newsmaker.id

News Maker 23 – Indonesia News Portal for Traders

Demo EWF

Demo Equityworld

No Comments

Post a Comment