PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Pasokan Minyak Global Terancam, Harga Brent Bertahan di Atas US$105 per Barel
Harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi pada perdagangan Kamis (15/10), di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Minyak acuan Brent bergerak di sekitar US$106 per barel setelah mencatat kenaikan sekitar 1,3% selama tiga sesi perdagangan pertama pekan ini. Kondisi tersebut didorong oleh memanasnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Rusia yang kembali mengancam stabilitas distribusi energi dunia. [newsmaker.id]
Baca juga: EWF_CYBER2 | Freeport Buat Draft Perjanjian Lepas 12 Persen Saham ke Pemerintah RI
Pasar minyak menghadapi tekanan baru setelah sebuah kapal kargo dilaporkan tenggelam akibat terkena proyektil tak dikenal saat melintas di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia. Di saat yang sama, kelompok Houthi yang didukung Iran terus meningkatkan serangan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi. Sementara itu, Rusia menuduh Ukraina menyerang dua kilang minyak di Saratov dan Ryazan, meskipun tuduhan tersebut telah dibantah oleh Kyiv dan belum dapat diverifikasi secara independen. [newsmaker.id]
Rangkaian insiden tersebut meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak global. Beberapa laporan menunjukkan kapal tanker dengan kapasitas gabungan sedikitnya 37 juta barel memilih berhenti beroperasi sementara atau mengubah rute pelayaran menuju kawasan Uni Emirat Arab dan Oman. Meski hingga kini belum ada indikasi penurunan ekspor minyak dari negara-negara Teluk, ancaman terhadap jalur pelayaran utama telah memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar. Pada saat yang sama, Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan bahwa persediaan minyak darat dunia mendekati level terendah dalam lebih dari satu dekade. [newsmaker.id]
Dari Amerika Serikat, sentimen turut diperkuat oleh data American Petroleum Institute (API) yang menunjukkan stok minyak mentah turun 11,1 juta barel pada pekan lalu. Jika angka tersebut dikonfirmasi oleh data resmi pemerintah AS, maka penurunan tersebut akan menjadi yang terbesar sejak Juni 2025. Berkurangnya stok minyak di tengah ketegangan geopolitik membuat pasar semakin sensitif terhadap perkembangan konflik yang berpotensi mengganggu pasokan. [newsmaker.id]
Sepanjang tahun ini, harga Brent telah melonjak lebih dari 70%, terutama akibat gangguan pasar energi yang dipicu oleh konflik AS-Iran serta meningkatnya risiko terhadap infrastruktur energi global. Kondisi tersebut membuat prospek harga minyak tetap bullish meski sesekali mengalami koreksi teknikal. [newsmaker.id]
Pada perdagangan Asia, Brent kontrak Desember tercatat turun tipis 0,5% ke US$105,53 per barel, sedangkan WTI kontrak November melemah 0,4% menjadi US$94,67 per barel. Meski demikian, ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi diperkirakan akan terus menopang harga minyak dalam jangka pendek hingga menengah. [newsmaker.id]
Pelaku pasar kini akan terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz, serta potensi serangan terhadap fasilitas energi utama. Selama risiko-risiko tersebut belum mereda, harga minyak berpotensi tetap bertahan di level tinggi dengan volatilitas yang masih signifikan. [newsmaker.id]\
Sumber: Newsmaker
No Comments