Blog

PT Equitywrold Futures Cyber2 Jakarta | Emas Sulit Bangkit, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Sentuh 86%

08:31 14 September in Gold
0 Comments
0

Harga emas masih kesulitan menemukan momentum penguatan pada awal pekan. Logam mulia tersebut diperdagangkan di sekitar level US$4.300 per troy ounce pada Senin (14/09), melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung selama tiga pekan berturut-turut. Tekanan utama datang dari meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve serta lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi. [newsmaker.id]

Sentimen pasar berubah semakin hawkish setelah harga minyak dunia melonjak mendekati level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh keputusan Arab Saudi menutup salah satu pipa utama yang selama ini menjadi jalur alternatif pengiriman minyak di luar Selat Hormuz. Penutupan tersebut terjadi setelah adanya serangan drone yang kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. [newsmaker.id]

Lonjakan harga energi memperkuat risiko inflasi global, terutama ketika konflik di Timur Tengah masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kondisi ini membuat investor semakin yakin bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Berdasarkan proyeksi pasar terbaru, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed pekan ini telah mencapai sekitar 86%. [newsmaker.id]

Dukungan bagi pandangan hawkish tersebut juga datang dari data ekonomi Amerika Serikat. Inflasi konsumen (CPI) tahunan pada Agustus tercatat bertahan di level 3,4%, sesuai ekspektasi pasar. Sementara itu, inflasi bulanan naik 0,4%, menjadi laju kenaikan tercepat dalam tiga bulan terakhir. Data harga produsen yang turut menunjukkan percepatan, ditambah kondisi pasar tenaga kerja yang masih solid, semakin mempersempit ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya. [newsmaker.id]

Bagi pasar emas, situasi saat ini menghadirkan dinamika yang cukup kompleks. Di satu sisi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah biasanya meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven. Namun di sisi lain, kenaikan harga minyak memperbesar risiko inflasi yang pada akhirnya mendorong ekspektasi suku bunga dan imbal hasil obligasi AS lebih tinggi. Lingkungan suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. [newsmaker.id]

Dengan demikian, prospek jangka pendek emas masih sangat bergantung pada hasil pertemuan Federal Reserve dan arah kebijakan moneter selanjutnya. Selama pasar tetap meyakini adanya kenaikan suku bunga, ruang penguatan emas diperkirakan akan tetap terbatas meskipun ketidakpastian geopolitik masih membayangi pasar global. [newsmaker.id]

Sumber: Newsmaker.id

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaan

No Comments

Post a Comment