PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Nikkei Dibuka Melemah, Lonjakan Harga Minyak dan Tekanan Global Bebani Sentimen
Jakarta, 10 September 2026 – Indeks saham Jepang Nikkei 225 memulai perdagangan Kamis (10/9) di zona negatif seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap lonjakan harga minyak dunia dan risiko inflasi global. Sentimen pasar semakin tertekan setelah harga minyak Brent bertahan di atas level psikologis US$100 per barel, sementara ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi. [newsmaker.id]
Baca juga: EWF_CYBER2 | Freeport Buat Draft Perjanjian Lepas 12 Persen Saham ke Pemerintah RI
Pada sesi pembukaan, Nikkei sempat turun sekitar 0,6% ke area 64.760 sebelum tekanan jual berlanjut. Indikator pasar Jepang kemudian bergerak di sekitar 64.570, mencerminkan pelemahan sekitar 0,9% dibandingkan sesi sebelumnya. [newsmaker.id]
Kenaikan harga energi menjadi faktor utama yang membebani pasar. Konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Bagi Jepang yang sangat bergantung pada impor energi, lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya produksi perusahaan sekaligus memicu tekanan inflasi yang lebih tinggi. [newsmaker.id]
Dari sisi sektoral, saham-saham konstruksi dan ritel menjadi yang paling tertekan pada perdagangan awal. Taisei tercatat merosot sekitar 4,9%, sedangkan Ryohin Keikaku melemah sekitar 2,4%. Saham berkapitalisasi besar seperti Tokyo Electron dan Fast Retailing juga bergerak lebih rendah, mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap prospek pertumbuhan di tengah meningkatnya biaya energi. [newsmaker.id]
Meski demikian, tidak seluruh sektor mengalami tekanan. Beberapa saham perbankan masih mampu mencatatkan penguatan, didukung oleh ekspektasi kenaikan suku bunga yang dapat mendukung margin keuntungan sektor keuangan. [newsmaker.id]
Pelaku pasar juga fokus pada perkembangan kebijakan Bank of Japan (BOJ) menjelang pertemuan bank sentral pekan depan. Spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga semakin menguat setelah yield obligasi pemerintah Jepang mengalami kenaikan. Di saat yang sama, penguatan yen dalam beberapa hari terakhir turut menjadi tantangan bagi perusahaan-perusahaan eksportir Jepang karena berpotensi mengurangi daya saing produk mereka di pasar global. [newsmaker.id]
Tekanan terhadap pasar Jepang juga diperparah oleh sentimen negatif dari Wall Street. Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya setelah harga minyak menembus US$100 per barel. Selain itu, yield Treasury AS tenor 10 tahun yang bertahan di sekitar 4,84% memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih cukup kuat untuk mempertahankan suku bunga global pada level tinggi lebih lama dari yang diharapkan pasar. [newsmaker.id]
Dengan kombinasi kenaikan harga minyak, ketidakpastian geopolitik, serta prospek kebijakan moneter yang lebih ketat, sentimen terhadap aset berisiko masih cenderung rapuh. Investor diperkirakan akan terus mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga energi, serta keputusan BOJ yang berpotensi menjadi penentu arah pergerakan Nikkei dalam jangka pendek. [newsmaker.id]
No Comments