Blog

PT Equityworld Futures Cyber 2 Jakarta | Minyak Naik, Serangan AS ke Kapal Iran Picu Risiko Eskalasi di Pasar Energi

09:23 07 September in Uncategorized
0 Comments
0

Jakarta, 7 September 2026 – Harga minyak dunia kembali menguat pada awal pekan setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat. Pasar energi global kembali dihantui kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia yang merupakan salah satu pusat produksi dan distribusi minyak terbesar di dunia. [newsmaker.id]

Pada perdagangan Senin (7/9), kontrak minyak mentah Brent sempat menguat sekitar 0,8% sebelum memangkas sebagian kenaikannya dan diperdagangkan di kisaran US$96–97 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak di sekitar US$92 per barel. Kenaikan harga terjadi setelah muncul laporan mengenai aksi militer terbaru yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. [newsmaker.id]

Ketegangan meningkat setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa pasukannya menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada 5 September. Tindakan tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan rudal balistik yang diluncurkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ke arah dua kapal perang Amerika Serikat. Menurut CENTCOM, kapal M/T Kylo dihancurkan di Teluk Oman, sedangkan M/T Stark 1 dan M/T Downy berhasil dilumpuhkan. Tidak ada korban personel militer AS dalam insiden tersebut. [newsmaker.id]

Situasi semakin memanas ketika Iran mengumumkan rencana pembentukan zona maritim terbatas baru di luar Selat Hormuz. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa wilayah tersebut akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut AS dan meluas ke sebagian kawasan Teluk Persia. Langkah ini meningkatkan kekhawatiran pasar terkait keamanan jalur pelayaran komersial yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. [newsmaker.id]

Selat Hormuz memiliki peran vital dalam perdagangan minyak dunia karena menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dari negara-negara produsen Timur Tengah. Karena itu, setiap ancaman terhadap keamanan kawasan tersebut biasanya langsung memicu lonjakan premi risiko di pasar energi. [newsmaker.id]

Tanda-tanda meningkatnya risiko juga terlihat dari menurunnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Dalam sekitar sepuluh hari terakhir, lalu lintas kapal komoditas melalui jalur strategis itu turun ke level terendah sejak Mei dengan rata-rata hanya sekitar 10 kapal per hari. Sejumlah perusahaan pelayaran dilaporkan mulai menghindari kawasan tersebut, sementara beberapa tanker memilih menonaktifkan sistem pelacakan saat melintasi wilayah berisiko tinggi. [newsmaker.id]

Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, pelaku pasar mulai kembali membahas kemungkinan harga Brent menembus level psikologis US$100 per barel. Chief Investment Officer Karobaar Capital, Haris Khurshid, menilai bahwa pasar memang telah memperhitungkan sebagian besar premi risiko, namun belum sepenuhnya memasukkan skenario terburuk. Jika gangguan pelayaran semakin memburuk dan berdampak nyata terhadap pasokan minyak global dalam jangka waktu panjang, harga minyak berpotensi naik lebih tinggi lagi. [newsmaker.id]

Selain itu, minat spekulatif terhadap minyak juga meningkat. Sejumlah hedge fund dilaporkan menambah posisi bullish mereka seiring memanasnya kembali konflik AS-Iran. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor masih melihat peluang kenaikan harga minyak selama risiko geopolitik tetap tinggi dan ancaman terhadap pasokan global belum mereda. [newsmaker.id]

Dengan perkembangan terbaru ini, pasar akan terus mencermati dinamika konflik di Timur Tengah, terutama terkait keamanan Selat Hormuz. Setiap eskalasi lanjutan berpotensi menjadi katalis bagi pergerakan harga minyak dalam beberapa pekan ke depan. [newsmaker.id]

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaan

No Comments

Post a Comment