PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Emas Tumbang Dihantam Penguatan Dolar dan Lonjakan Yield AS
Jakarta, 2 September 2026 – Harga emas mengalami tekanan besar pada perdagangan Selasa (1/9), seiring menguatnya dolar AS dan kenaikan tajam imbal hasil obligasi Amerika Serikat setelah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Logam mulia yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai justru terkoreksi tajam karena pelaku pasar lebih fokus pada prospek suku bunga yang lebih tinggi dan penguatan mata uang dolar. [newsmaker.id]
Baca juga: EWF_CYBER2 | Freeport Buat Draft Perjanjian Lepas 12 Persen Saham ke Pemerintah RI
Berdasarkan data pasar, harga spot gold turun sekitar 2,7% dan ditutup di US$4.328,64 per troy ounce, sementara kontrak gold futures melemah 2,4% ke US$4.375,75 per ounce. Penurunan ini menjadi salah satu koreksi terbesar emas dalam beberapa pekan terakhir. [newsmaker.id]
Sentimen negatif muncul setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan serangan terhadap target yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Media pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan tersebut menyasar sebuah fasilitas di Qeshm serta beberapa target nonmiliter di wilayah Hormozgan. Konflik ini memperpanjang ketegangan antara kedua negara yang sebelumnya berselisih terkait keamanan dan kendali Selat Hormuz. [newsmaker.id]
Situasi semakin memanas ketika Iran dilaporkan membalas dengan serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania. Menurut laporan media setempat, sebagian besar rudal berhasil dicegat, sementara Presiden Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer terbaru AS merupakan respons terhadap dugaan aktivitas peletakan ranjau dan serangan terhadap kepentingan militer Amerika di kawasan tersebut. [newsmaker.id]
Konflik tersebut turut mendorong lonjakan harga energi. Brent crude melonjak sekitar 5,1% menjadi US$95,13 per barel, sedangkan WTI kembali menembus level US$90 per barel, tertinggi sejak Juni. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi energi yang lebih tinggi dan berpotensi mempersulit upaya bank sentral dalam mengendalikan tekanan harga. [newsmaker.id]
Selain faktor geopolitik, emas juga tertekan oleh kenaikan yield obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak November 2023, sementara obligasi tenor 2 tahun mencapai posisi tertinggi sejak Juli 2024. Kenaikan yield membuat aset berbunga menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak menawarkan imbal hasil. [newsmaker.id]
Di sisi kebijakan moneter, pasar semakin memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan September. Pernyataan bernada hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam simposium Jackson Hole memperkuat ekspektasi tersebut. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin kini berada di kisaran 68%, sementara peluang suku bunga tetap bertahan sekitar 32%. [newsmaker.id]
Sementara itu, data JOLTS Job Openings menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS pada Juli mencapai 7,271 juta, sedikit di bawah perkiraan pasar namun masih mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif solid. Data ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS belum cukup melemah untuk mendorong The Fed segera melonggarkan kebijakan moneternya. [newsmaker.id]
Perhatian investor kini tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Agustus yang akan dirilis akhir pekan ini. Angka ketenagakerjaan tersebut dipandang sebagai indikator penting yang dapat menentukan arah kebijakan The Fed dan pergerakan dolar AS dalam jangka pendek. [newsmaker.id]
Prospek Emas
Tekanan terhadap emas saat ini menunjukkan bahwa pasar lebih memprioritaskan penguatan dolar AS, kenaikan yield Treasury, dan peluang kenaikan suku bunga dibandingkan fungsi emas sebagai aset safe haven. Selama harga masih bergerak di bawah area US$4.400 per troy ounce, risiko pelemahan lebih lanjut masih terbuka. Namun, potensi rebound tetap ada apabila data tenaga kerja AS mengecewakan atau terjadi meredanya ketegangan antara AS dan Iran, yang dapat mengurangi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve. [newsmaker.id]
Sumber: Newsmaker.id [newsmaker.id]
No Comments