Blog

PT Equitwyorld Futures Cyber 2 Jakarta | Emas Awali September dengan Rebound, Ditopang Pelemahan Dolar dan Ketegangan Geopolitik

08:11 01 September in Gold
0 Comments
0

Jakarta, Newsmaker.id – Harga emas memulai perdagangan September dengan performa positif setelah berhasil bangkit dari tekanan yang terjadi dalam beberapa sesi sebelumnya. Penguatan logam mulia didorong oleh kombinasi pelemahan dolar Amerika Serikat, munculnya aksi beli di level rendah, serta meningkatnya permintaan aset aman akibat memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. [newsmaker.id]

Pada perdagangan sesi Asia, Selasa (1/9/2026), harga emas spot dibuka di sekitar US$4.449,19 per troy ons dan bergerak naik ke area US$4.458, bahkan sempat menyentuh US$4.461,47. Kenaikan tersebut membuat emas menguat sekitar 0,2% dibandingkan penutupan sebelumnya, mengindikasikan adanya minat beli yang kembali masuk setelah harga mengalami koreksi cukup dalam. [newsmaker.id]

Rebound emas terjadi setelah tekanan jual sebelumnya membawa harga logam mulia mendekati level terendah dalam hampir dua pekan. Kondisi tersebut memicu munculnya aksi buy on dip, ketika investor memanfaatkan harga yang lebih rendah untuk kembali menambah posisi. Di saat yang sama, pelemahan dolar AS memberikan dukungan tambahan bagi pasar emas. [newsmaker.id]

Indeks dolar AS tercatat melemah sekitar 0,24% menjadi 99,43 pada perdagangan Senin dan membukukan penurunan bulanan kedua secara berturut-turut. Melemahnya mata uang AS membuat emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia tersebut di pasar global. [newsmaker.id]

Selain faktor mata uang, sentimen safe haven kembali menguat seiring meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Eskalasi terbaru antara kedua negara mendorong harga minyak Brent kembali menembus US$90 per barel, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Teluk dan jalur strategis Selat Hormuz. Ketidakpastian geopolitik ini mendorong sebagian investor mencari perlindungan melalui aset yang dianggap lebih aman seperti emas. [newsmaker.id]

Meski demikian, prospek kenaikan emas masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu hambatan utama datang dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun tercatat berada di sekitar 4,768%, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang masih ketat. Kenaikan yield biasanya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi. [newsmaker.id]

Pasar juga terus mencermati sikap Federal Reserve. Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September diperkirakan berada di kisaran 64% hingga 65%, menyusul pernyataan bernada hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi berpotensi membatasi ruang penguatan emas dalam jangka pendek. [newsmaker.id]

Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada serangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat, terutama laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis pada Jumat pekan ini. Konsensus pasar memperkirakan penambahan sekitar 55.000 lapangan kerja, yang berpotensi menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan The Fed sekaligus menentukan pergerakan emas selanjutnya. [newsmaker.id]

Sumber: Newsmaker.id

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaan

No Comments

Post a Comment