PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Dolar Australia Tertekan, Konflik AS–Iran Membebani Aset Berisiko
Dolar Australia (AUD) kembali berada dalam tekanan setelah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu gelombang penghindaran risiko (risk-off) di pasar keuangan global. Ketegangan geopolitik yang semakin tajam mendorong investor beralih ke aset safe haven, sehingga memperkuat dolar AS dan melemahkan mata uang yang sensitif terhadap sentimen risiko seperti AUD. [newsmaker.id]
Baca juga: EWF_CYBER2 | Freeport Buat Draft Perjanjian Lepas 12 Persen Saham ke Pemerintah RI
Pada perdagangan terbaru, AUD bergerak di sekitar level US$0,698, turun dari posisi tertinggi dalam tiga minggu terakhir. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak konflik yang kini tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga berpotensi mengganggu infrastruktur penting dan jalur distribusi energi global. [newsmaker.id]
Salah satu faktor yang menjadi perhatian utama pasar adalah terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dunia. Situasi semakin memanas setelah AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran dilaporkan menargetkan sejumlah kapal di kawasan tersebut. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak dan menumbuhkan kekhawatiran baru mengenai pasokan energi global. [newsmaker.id], [fxstreet-id.com]
Kenaikan harga energi berpotensi menghidupkan kembali tekanan inflasi global yang sebelumnya mulai mereda. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama, bank sentral di berbagai negara dapat menghadapi tantangan baru dalam menjaga stabilitas harga. Sentimen tersebut memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman sekaligus menekan mata uang berbasis pertumbuhan, termasuk dolar Australia. [newsmaker.id], [fxstreet-id.com]
Di sisi domestik, prospek kebijakan moneter Australia masih relatif terbatas. Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 70% untuk satu kali kenaikan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) hingga akhir tahun. Namun, sebagian investor juga mulai melihat kemungkinan pelonggaran kebijakan atau pemangkasan suku bunga pada tahun berikutnya apabila pertumbuhan ekonomi melemah. [newsmaker.id]
Meski demikian, kenaikan harga bahan bakar akibat lonjakan minyak dunia dapat mengubah ekspektasi tersebut. Jika inflasi kembali meningkat, RBA mungkin harus mempertimbangkan kebijakan yang lebih ketat dibandingkan perkiraan sebelumnya. Hal ini membuat arah kebijakan bank sentral Australia menjadi salah satu faktor penting yang akan terus dipantau investor. [newsmaker.id]
Ke depan, pergerakan AUD/USD diperkirakan masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik AS–Iran dan dinamika harga energi global. Selama sentimen risk-off mendominasi pasar serta dolar AS tetap menguat, tekanan terhadap dolar Australia berpotensi berlanjut. Di sisi lain, data ketenagakerjaan Australia dan survei PMI yang akan datang akan menjadi indikator penting untuk menilai kondisi ekonomi domestik dan arah pergerakan mata uang tersebut dalam jangka pendek. [newsmaker.id]
Sumber: Newsmaker.id
No Comments