Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Minyak Bertahan Tinggi, Trump Ragukan Gencatan Senjata AS–Iran

09:05 12 May in Commodity
0 Comments
0

Harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang meragukan keberlangsungan gencatan senjata menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga minyak, sekaligus memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Harga Minyak Tetap Tinggi

Pada perdagangan terbaru, harga minyak mentah jenis Brent tercatat berada di atas US$104 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$98 per barel. Keduanya sebelumnya sudah mengalami kenaikan signifikan dalam sesi perdagangan sebelumnya, mencerminkan tingginya premi risiko di pasar energi global. [newsmaker.id]

Penguatan harga ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan, terutama dari kawasan Timur Tengah yang merupakan pusat produksi energi dunia.

Keraguan Trump Picu Ketegangan

Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran saat ini berada dalam kondisi “life support” atau sangat rapuh. Ia juga menilai respons Iran terhadap proposal damai yang diajukan AS tidak memadai, sehingga menambah ketidakpastian terhadap masa depan konflik. [newsmaker.id]

Meskipun secara teknis gencatan senjata masih berlangsung sejak awal April 2026 dan mampu bertahan meski terjadi sejumlah insiden, pasar melihat risiko konflik kembali memanas tetap besar.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis

Salah satu faktor utama yang mendorong harga minyak tetap tinggi adalah gangguan di Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang mengalirkan sebagian besar pasokan minyak dunia. Kondisi yang digambarkan sebagai “hampir tertutup” telah mengganggu arus minyak, gas, dan bahan bakar ke berbagai negara. [newsmaker.id]

Gangguan di jalur vital ini tidak hanya memicu kekhawatiran terhadap kelangkaan pasokan energi, tetapi juga meningkatkan risiko tekanan inflasi global karena biaya energi yang lebih tinggi.

Tuntutan Iran dan Kebuntuan Diplomasi

Dalam perundingan yang berlangsung, Iran disebut meminta AS untuk mencabut blokade laut serta memberikan pelonggaran sanksi. Namun di sisi lain, Iran tetap ingin mempertahankan kontrol terhadap lalu lintas di Selat Hormuz. [newsmaker.id]

Kondisi ini memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai yang komprehensif. Para analis menilai risiko konflik masih akan berlanjut, meskipun kemungkinan dalam intensitas yang lebih rendah.

Potensi Eskalasi Militer

Di pihak AS, Trump dilaporkan akan bertemu dengan tim keamanan nasional untuk membahas perkembangan konflik, termasuk kemungkinan melanjutkan aksi militer. Selain itu, pemerintah AS juga mempertimbangkan kembali rencana pengawalan kapal yang melintasi Selat Hormuz demi menjaga keamanan distribusi energi global. [newsmaker.id]

Di dalam negeri, kenaikan harga bahan bakar juga menambah tekanan politik bagi pemerintah AS, terutama menjelang pemilu paruh waktu yang akan datang.

Tanda Pelemahan Pasar Mulai Terlihat

Meski harga minyak masih tinggi, terdapat beberapa indikasi bahwa kekuatan pasar mulai melemah. Sejumlah kilang dilaporkan mengurangi pembelian minyak, yang tercermin dari penyempitan spread harga Brent (prompt spread) menjadi sekitar US$4 per barel, dari sebelumnya mendekati US$10. [newsmaker.id]

Selain itu, gangguan distribusi di Selat Hormuz telah menyebabkan penurunan volume pengiriman. Bahkan, CEO Saudi Aramco menyebut pasar kehilangan sekitar 100 juta barel pasokan per minggu selama gangguan berlangsung. [newsmaker.id]

Beberapa eksportir juga mulai mengalihkan jalur distribusi ke pelabuhan alternatif, sementara pembeli besar seperti China cenderung mengurangi volume pembelian akibat harga yang tinggi.

Dampak ke Ekonomi Global

Kondisi ini berpotensi memberikan dampak luas terhadap ekonomi global. Harga energi yang tinggi dapat memicu inflasi, meningkatkan biaya produksi, serta menekan daya beli masyarakat di berbagai negara.

Selama ketegangan geopolitik antara AS dan Iran belum menemukan solusi yang jelas, pasar minyak diperkirakan akan tetap diliputi volatilitas tinggi. Premi risiko geopolitik akan terus menjadi faktor dominan dalam menentukan arah harga minyak ke depan.


Kesimpulan:
Harga minyak yang tetap tinggi saat ini tidak lepas dari ketegangan geopolitik dan ketidakpastian gencatan senjata antara AS dan Iran. Keraguan Trump, gangguan di Selat Hormuz, serta kebuntuan diplomasi menjadi kombinasi faktor yang menjaga pasar energi tetap dalam tekanan. Selama kondisi ini belum mereda, harga minyak berpotensi terus bertahan di level tinggi dengan volatilitas yang besar.

 

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaan

No Comments

Post a Comment