Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Risk-On Kembali Menyelimuti Pasar Asia, Seberapa Kuat Reli Ini Bertahan?

10:04 08 April in Business
0 Comments
0

Pasar keuangan Asia kembali memasuki fase risk-on pada Rabu, 8 April 2026, setelah muncul kabar meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Optimisme investor meningkat tajam menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai gencatan senjata sementara selama dua minggu, yang secara langsung mendorong reli aset berisiko dan menekan harga komoditas energi. [newsmaker.id]

Sentimen positif ini langsung tercermin pada pasar saham, obligasi, valuta asing, hingga kripto. Bursa saham utama Asia menguat serempak, sementara pasar obligasi pemerintah mengalami reli yang menandakan turunnya imbal hasil. Pada saat yang sama, harga minyak mentah jatuh signifikan, mengurangi kekhawatiran inflasi berbasis energi—isu yang sebelumnya menjadi beban besar bagi pasar global.

Gencatan Senjata dan Kunci Selat Hormuz

Pemicu utama perubahan sentimen ini adalah keputusan Washington untuk menunda aksi militer terhadap Iran, dengan syarat dibukanya kembali Selat Hormuz—jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Penutupan selat ini sebelumnya tidak hanya memicu lonjakan harga minyak, tetapi juga mengganggu distribusi komoditas penting lain seperti pupuk dan bahan baku industri. [newsmaker.id]

Pemerintah Iran melalui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dilaporkan menyetujui jalur pelayaran aman di Selat Hormuz serta membuka peluang dimulainya perundingan lanjutan dengan AS. Respons pasar terhadap perkembangan ini sangat cepat, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada impor energi.

Harga Minyak Anjlok, Inflasi Berpotensi Mereda

Harga minyak dunia turun tajam dan kembali berada di bawah US$100 per barel. Kontrak WTI terdekat merosot sekitar 14% ke kisaran US$97, sementara minyak Brent jatuh sekitar 12,5% ke area US$95 per barel. Penurunan ini dipandang sebagai sinyal positif bagi tekanan biaya energi dan ekspektasi inflasi global. [newsmaker.id]

Sejumlah analis menilai koreksi minyak dapat memberikan ruang bernapas bagi bank sentral, serta menjadi katalis lanjutan bagi pasar ekuitas yang sebelumnya tertekan oleh kombinasi inflasi tinggi dan ketidakpastian geopolitik.

Bursa Asia Melonjak, Risiko Kembali Dipeluk Investor

Reli risk-on terlihat jelas di pasar saham Asia. Indeks Nikkei Jepang melonjak sekitar 4,4%, didorong oleh saham-saham siklikal dan eksportir. Di Korea Selatan, Kospi melonjak lebih dari 5%, dengan saham teknologi dan semikonduktor menjadi motor utama penguatan. Sementara itu, S&P/ASX 200 Australia naik sekitar 2,5% dalam sesi perdagangan pagi. [newsmaker.id]

Di luar saham, mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS yang melemah. Aset alternatif seperti Bitcoin bertahan di atas level US$70.000, sementara emas dan perak kembali mendapat aliran dana sebagai lindung nilai di tengah ketidakpastian jangka menengah.

Optimisme Ada, Tapi Kewaspadaan Tetap Tinggi

Meski pasar tampak euforia, pelaku pasar belum sepenuhnya lengah. Sejumlah institusi menilai gencatan senjata ini baru bersifat sementara dan rapuh. Saxo Markets menyebut perkembangan diplomasi ini konstruktif, namun belum cukup kuat untuk menjamin stabilitas jangka panjang tanpa kesepakatan yang lebih konkret.

Nada serupa disampaikan eToro, yang mengingatkan investor agar tidak terjebak euforia berlebihan. Batas waktu dua minggu dianggap lebih sebagai “jeda ketegangan” ketimbang solusi permanen. Jika tidak ada kemajuan nyata setelah periode tersebut, pasar dinilai rentan mengalami pembalikan tajam. [newsmaker.id]

Faktor Penentu Keberlanjutan Reli

Ke depan, keberlanjutan reli risk-on di Asia sangat bergantung pada dua hal utama:

  1. Bukti nyata dibukanya kembali Selat Hormuz secara berkelanjutan, dan
  2. Kemajuan konkret dalam negosiasi AS–Iran.

Tanpa kedua faktor ini, reli yang terjadi berpotensi bersifat teknikal dan jangka pendek. Investor global kini memasuki fase “optimis namun waspada”, menimbang peluang pemulihan pasar dengan risiko geopolitik yang masih membayangi.

 

Tags:
No Comments

Post a Comment