PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Harga Minyak Melonjak, Pasar Saham Global Tertekan Usai Serangan Iran
Harga minyak mentah dunia melonjak tajam sementara pasar saham global melemah setelah Iran melancarkan serangan terhadap sebuah kapal tanker minyak milik Kuwait di kawasan pelabuhan Dubai. Insiden ini kembali memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 3,4 persen dan menembus level USD 106 per barel. Kenaikan signifikan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, mengingat kawasan Timur Tengah memiliki peran vital dalam distribusi minyak dunia.
Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat justru mengalami tekanan. Kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 0,3 persen setelah indeks acuan tersebut jatuh ke level terendah sejak Agustus dan nyaris memasuki zona koreksi. Pelemahan ini diperkirakan akan menular ke pasar saham Asia, dengan bursa Australia diprediksi dibuka lebih rendah mengikuti sentimen negatif global.
Dolar Amerika Serikat sedikit menguat pada perdagangan Selasa. Mata uang ini kembali menjadi aset lindung nilai pilihan investor sejak konflik di Timur Tengah memanas. Perang yang berkepanjangan tersebut telah mengguncang stabilitas pasar global, memunculkan kekhawatiran ganda terhadap tekanan inflasi sekaligus perlambatan pertumbuhan ekonomi. Terputusnya sejumlah jalur pasokan energi utama membuat harga minyak terus meroket dan menyeret indeks S&P 500 menuju kinerja bulanan terburuk sejak tahun 2022.
Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan keras terkait Selat Hormuz. Ia memperingatkan bahwa jika Iran tidak membuka kembali jalur strategis tersebut, Amerika Serikat akan mengambil tindakan tegas dengan menargetkan pembangkit listrik, fasilitas minyak, dan bahkan infrastruktur desalinasi Iran.
Sementara itu, pasar obligasi justru menunjukkan pergerakan berlawanan. Obligasi pemerintah AS menguat pada perdagangan Senin setelah Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, berupaya meredakan kekhawatiran pasar mengenai lonjakan inflasi jangka pendek akibat kenaikan harga energi. Powell menegaskan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang masih berada dalam kondisi terkendali, sehingga pelaku pasar mulai mengurangi spekulasi terkait kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Dampak dari sentimen tersebut turut dirasakan di kawasan Pasifik. Imbal hasil obligasi Australia dan Selandia Baru tercatat menurun pada perdagangan Selasa pagi, sejalan dengan pergerakan pasar obligasi AS. Analis Evercore, Krishna Guha, menilai bahwa sikap tenang Powell serta meningkatnya fokus pasar terhadap risiko pertumbuhan akibat mahalnya harga minyak mendorong perubahan ekspektasi suku bunga global.
Di pasar saham teknologi, indeks Nasdaq 100 kini berada sekitar 12 persen di bawah rekor tertingginya yang dicapai pada Oktober lalu. Penurunan ini didorong oleh kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah dapat menekan kinerja ekonomi global dan kembali memicu inflasi dalam waktu dekat.
Sumber: Newsmaker.id
No Comments