Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Dolar AS Menguat dan Risiko Timur Tengah Menekan Harga Perak

08:42 30 March in Business
0 Comments
0

Harga perak dunia membuka perdagangan awal pekan ini dengan tekanan signifikan, seiring menguatnya dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada perdagangan sesi Asia hari Senin, harga perak (XAG/USD) tercatat melemah hampir 2% dan bergerak mendekati batas bawah kisaran perdagangan satu pekan terakhir.

Meski sempat bertahan di atas level psikologis USD 68,00 per troy ounce, pergerakan harga perak terlihat rentan untuk melanjutkan koreksi apabila tekanan eksternal terus berlanjut. Pelemahan ini menandai kembalinya sentimen risk-off di pasar keuangan global.

Konflik AS–Iran Dorong Permintaan Dolar

Sentimen kehati-hatian investor meningkat tajam karena konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memasuki pekan kelima tanpa tanda-tanda deeskalasi. Kondisi ini mendorong aliran dana menuju aset safe haven, terutama dolar AS.

Penguatan dolar AS secara historis menjadi faktor negatif bagi komoditas berdenominasi dolar, termasuk perak. Ketika dolar menguat, harga perak menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan global cenderung melemah.

Eskalasi Geopolitik Meningkat

Dari sisi geopolitik, laporan terbaru menyebutkan bahwa Pentagon tengah mempersiapkan kemungkinan operasi darat yang dapat berlangsung selama beberapa pekan di wilayah Iran. Target potensial disebut meliputi Kharg Island serta sejumlah lokasi pesisir strategis yang berada dekat Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia.

Pemerintah Iran sendiri menyatakan akan memberikan respons tegas apabila pasukan AS benar-benar dikerahkan. Ketegangan ini semakin diperburuk oleh aktivitas kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran. Dalam 24 jam terakhir, kelompok tersebut mengklaim telah meluncurkan dua rudal ke wilayah Israel dan mengancam akan melakukan serangan lanjutan.

Ancaman ini meningkatkan kekhawatiran akan gangguan jalur perdagangan global, khususnya di sekitar Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Situasi ini menambah lapisan ketidakpastian bagi pasar keuangan internasional.

Dampak ke Inflasi dan Kebijakan Moneter

Meningkatnya risiko geopolitik turut menopang harga minyak global, yang pada gilirannya memicu kekhawatiran inflasi. Lonjakan harga energi berpotensi membuat tekanan inflasi bertahan lebih lama, sehingga memengaruhi ekspektasi kebijakan bank sentral global.

Pasar saat ini dinilai telah sepenuhnya mengesampingkan peluang pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve Amerika Serikat. Bahkan, sebagian pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga hingga akhir tahun. Lingkungan suku bunga tinggi ini cenderung menguntungkan dolar AS, tetapi menjadi sentimen negatif bagi perak yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Gambaran Teknikal Masih Bearish

Dari sisi teknikal, pergerakan harga perak yang cenderung sideways dalam beberapa sesi terakhir dipandang sebagai fase konsolidasi bearish. Hal ini terjadi setelah harga menembus ke bawah Simple Moving Average (SMA) 100-hari, yang sering digunakan sebagai indikator tren jangka menengah.

Selama perak belum mampu kembali ke atas zona teknikal penting tersebut, bias pergerakan harga masih condong ke arah penurunan. Meski demikian, pelaku pasar umumnya menunggu konfirmasi tambahan berupa penembusan yang lebih tegas di bawah batas kisaran perdagangan saat ini sebelum meningkatkan posisi jual untuk penurunan lanjutan.

 

Sumber: Newsmaker.id

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaa

No Comments

Post a Comment