Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Emas Stabil: Sanksi Iran dan Isu Tarif AS Jadi Fokus Pasar

08:17 26 February in Gold
0 Comments
0

Harga emas global menunjukkan pergerakan stabil dalam beberapa sesi perdagangan terbaru, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta kebijakan tarif baru yang diberlakukan Washington. Kombinasi risiko geopolitik dan tekanan inflasi akibat tarif membuat logam mulia tetap menjadi aset lindung nilai utama bagi investor.


Ketegangan AS–Iran Memicu Pencarian Aset Aman

Ketidakpastian geopolitik kembali mencuat setelah hubungan AS–Iran memanas menjelang putaran ketiga perundingan nuklir yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa. Situasi ini mendorong investor kembali masuk ke “mode defensif,” meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.

Selain itu, beberapa pernyataan keras dari Presiden AS terkait potensi serangan militer terhadap Iran menambah volatilitas pasar. Di berbagai kesempatan, Washington menegaskan tidak akan membiarkan Iran memiliki kemampuan nuklir, sehingga pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi militer.


Isu Tarif Baru AS Mengguncang Sentimen Pasar

Di sisi lain, kebijakan tarif Amerika Serikat juga memainkan peran besar dalam menahan pergerakan harga emas. Pemerintah AS resmi memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10%, dengan wacana kenaikan ke 15% masih dalam pembahasan internal Gedung Putih. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran tentang dampak inflasi jangka pendek dan risiko perlambatan ekonomi global.

Para analis menilai bahwa tarif dapat menekan daya beli dan meningkatkan harga komoditas secara luas, sehingga mendorong sebagian investor untuk mengalihkan dana ke emas sebagai alat lindung nilai terhadap kenaikan harga.


Pergerakan Harga Emas dan Respons Investor

Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian ini, harga emas spot tercatat naik 1,1% ke level USD 5.202,28 per ons, sementara kontrak berjangka AS menguat sekitar 1% ke USD 5.226,20.

Lonjakan harga ini mengikuti pola umum ketika investor mencari aset aman di tengah risiko geopolitik dan tekanan makroekonomi. Bahkan, sebelumnya emas sempat mencetak rekor tertinggi di USD 5.594,82 per ons pada akhir Januari, mencerminkan tingginya minat investor terhadap logam mulia.

Analis dari TD Securities, Bart Melek, menjelaskan bahwa kombinasi tarif, harga minyak yang tinggi, dan potensi eskalasi konflik militer turut memperkuat minat lindung nilai investor terhadap emas.


Prospek ke Depan: Masih Menguat atau Mulai Terkoreksi?

Kendati emas menunjukkan tren menguat sepanjang tahun, beberapa lembaga keuangan besar memproyeksikan adanya potensi konsolidasi dalam jangka pendek. Bank of America memprediksi harga emas dapat mencapai USD 6.000 dalam 12 bulan ke depan, tetapi mengingatkan adanya kemungkinan periode pelemahan menjelang musim semi seiring investor mulai mengurangi eksposur mereka.

Faktor lain seperti kebijakan suku bunga The Fed akan tetap menjadi variabel penting. Lingkungan suku bunga rendah cenderung mendukung harga emas, sedangkan penguatan dolar AS sering kali menahan kenaikan emas. Dengan dinamika ini, pelaku pasar akan terus menilai perkembangan negosiasi AS–Iran dan arah kebijakan perdagangan AS.


Kesimpulan

Stabilitas harga emas dalam beberapa sesi terakhir mencerminkan tarik‑menarik antara ketegangan geopolitik, kebijakan tarif AS, dan prospek suku bunga. Meski ketidakpastian global memberikan dukungan kuat terhadap minat aset aman, faktor ekonomi makro seperti inflasi dan kebijakan The Fed tetap dapat mempengaruhi arah harga ke depan.

Dalam kondisi pasar seperti ini, emas terus menjadi pilihan utama investor sebagai instrumen lindung nilai — dan tren tersebut tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat.

 

Sumber: Newsmaker.id

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaa

No Comments

Post a Comment