Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Emas dan Perak Melemah: Sentimen Risk‑On Menekan Aset Safe Haven

01:06 18 February in Gold
0 Comments
0

Harga emas dan perak kembali berada di bawah tekanan setelah meningkatnya minat terhadap aset berisiko (risk‑on sentiment) di pasar global. Pergeseran selera risiko ini membuat permintaan terhadap logam mulia—yang umumnya berfungsi sebagai aset pelindung nilai (safe haven)—mengalami penurunan signifikan.

Sentimen Risk‑On Menguat Seiring Data Ekonomi AS

Penguatan sentimen risk-on terutama dipicu oleh data ekonomi Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan. Data ekonomi positif mendorong investor untuk kembali masuk ke aset berisiko seperti saham, sehingga menekan harga perak yang sempat jatuh lebih dari 5% dan diperdagangkan di area sekitar $80,40 per ons. Kondisi ini menandai perubahan momentum menjadi lebih bearish, terlihat dari indikator RSI yang mengarah pada tekanan penurunan lebih lanjut.

Para pelaku pasar juga menilai bahwa untuk memperluas penurunan, penjual perlu mendorong harga turun di bawah support psikologis $80, membuka potensi menuju SMA 50-hari di $75,62. Sebaliknya, kenaikan kembali di atas $90 baru akan membuka ruang pemulihan signifikan.

Tekanan pada Emas Seiring Menguatnya Dolar dan Rebound Risiko

Tidak hanya perak, emas juga mengalami tekanan setelah reli panjang sebelumnya. Penguatan dolar AS dan berkurangnya ketegangan geopolitik turut mengurangi permintaan emas sebagai aset safe haven. Dalam beberapa sesi, emas terkoreksi setelah sebelumnya mencapai rekor harga tertinggi sepanjang masa. Penurunan ini diperparah oleh data pengangguran AS yang lebih kuat, memicu apresiasi dolar dan mengurangi minat pada emas.

Pada perdagangan 16 Januari 2026, harga emas spot melemah ke sekitar US$4.600 per ons, turun dari rekor sebelumnya. Analis menilai bahwa meski tekanan jangka pendek meningkat, pelemahan ini lebih bersifat korektif setelah reli spektakuler sepanjang 2025.

Faktor Lain yang Mendorong Penurunan

Beberapa faktor tambahan memperkuat tekanan terhadap logam mulia:

1. Penguatan dolar AS

Dolar yang menguat membuat harga emas dan perak—yang dihitung dalam dolar—menjadi lebih mahal bagi investor luar negeri, sehingga menekan permintaan.

2. Meredanya ketegangan geopolitik

Nada yang lebih moderat dari Presiden AS Donald Trump terkait Iran mengurangi urgensi investor untuk mencari perlindungan di aset safe haven.

3. Aksi ambil untung setelah reli besar

Perak dan emas sebelumnya menembus rekor harga baru pada 2025. Banyak investor memutuskan mengamankan keuntungan sehingga tekanan jual meningkat.

Prospek Ke Depan: Apakah Tekanan Berlanjut?

Meski tekanan jangka pendek masih kuat, sejumlah analis menilai tren jangka panjang logam mulia tetap positif. Faktor seperti:

  • ekspektasi penurunan suku bunga AS,
  • meningkatnya pembelian bank sentral, dan
  • risiko geopolitik yang masih tinggi

dapat kembali mendukung harga emas dan perak pada semester mendatang. Namun untuk saat ini, sentimen risk‑on masih dominan dan berpotensi membuat harga bergerak dalam fase konsolidasi.

Sumber: Newsmaker.id

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaan

No Comments

Post a Comment