Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Minyak Dunia Anjlok: Ada Apa dengan Greenland dan Iran?

01:02 23 January in Commodity
0 Comments
0

Harga minyak global kembali mengalami tekanan signifikan pada Kamis, dengan penurunan sekitar 2% hingga menyentuh level terendah dalam sepekan. Minyak Brent merosot ke USD 64,06 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun ke USD 59,36 per barel. Penurunan tajam ini tidak hanya mencerminkan dinamika pasar energi, tetapi juga cerminan dari perubahan arah geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Greenland, Iran, dan perkembangan terbaru di kawasan konflik Rusia–Ukraina.

Geopolitik Greenland: Ketegangan Mereda, Pasar Lega

Salah satu pemicu pelemahan harga minyak adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menurunkan tensi ketegangan terkait Greenland. Ia menyebut bahwa AS telah mengamankan akses penuh atas wilayah strategis tersebut melalui kerja sama dengan NATO.

Pernyataan ini memberi sinyal positif bagi pasar karena mengurangi kekhawatiran atas potensi konflik geopolitik di kawasan Arktik yang kaya sumber daya dan memiliki kepentingan strategis militer. Kepala NATO juga menegaskan pentingnya memperkuat keamanan Arktik untuk mengantisipasi potensi ancaman dari Rusia dan China. Langkah-langkah ini secara langsung menekan premi risiko minyak yang sebelumnya meningkat akibat isu kawasan tersebut.

Iran: Ancaman Mereda, Pasar Mengalami Penguatan Sentimen

Selain isu Greenland, pernyataan Trump terkait Iran juga menenangkan pasar minyak. Meski sempat memanas akibat isu program nuklir Teheran, presiden AS menegaskan bahwa tidak akan ada aksi militer lanjutan—kecuali Iran meningkatkan aktivitas nuklirnya.

Eskalasi yang mereda ini mengurangi rasa takut pasar akan terganggunya suplai minyak dari Timur Tengah, mengingat Iran adalah salah satu produsen besar dan memiliki pengaruh signifikan terhadap suplai global. Dengan menurunnya tensi tersebut, analis dari Saxo Bank Ole Hansen menyebut bahwa premi risiko geopolitik pada harga minyak ikut menyusut.

Dinamika Rusia–Ukraina: Harapan Damai dan Potensi Dampak Pasokan

Konflik Rusia–Ukraina tetap menjadi salah satu variabel penting yang mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyampaikan bahwa beberapa jaminan keamanan telah dibahas bersama Trump.

Apabila proses perdamaian benar-benar tercapai, hal itu berpotensi membuka jalan bagi pencabutan sanksi terhadap Rusia, yang pada tahun lalu mencatatkan produksi minyak sekitar 10,28 juta barel per hari. Jika Rusia kembali meningkatkan ekspor ke pasar global, pasokan minyak dunia dapat kembali membesar sehingga menekan harga lebih jauh.

Faktor Pasokan Global: Venezuela dan Inventori AS

Selain geopolitik, faktor pasokan turut memengaruhi tren penurunan harga minyak. Venezuela kembali mengekspor minyak setelah adanya kesepakatan yang didukung AS, sementara reformasi undang‑undang hidrokarbon memberi ruang bagi perusahaan asing untuk mengoperasikan ladang minyak di negara tersebut.

Di AS sendiri, persediaan minyak mentah meningkat 3,6 juta barel, jauh di atas perkiraan analis sebesar 1,1 juta barel, menurut laporan Energy Information Administration (EIA). Lonjakan stok ini menambah tekanan bearish terhadap harga minyak global.

Proyeksi Harga Minyak Ke Depan

Meskipun pasar saat ini dipenuhi tekanan dari berbagai sisi—geopolitik, pasokan, dan stok AS—CEO Saudi Aramco Amin Nasser menyatakan bahwa kekhawatiran mengenai kelebihan pasokan mungkin berlebihan. Ia meyakini bahwa permintaan masih cukup kuat sementara beberapa indikator menunjukkan penyusutan inventori global.

Namun dalam jangka pendek, banyak analis memperkirakan harga minyak akan tetap berada di kisaran USD 60 per barel, terutama jika sentimen geopolitik terus menurun dan pasokan global meningkat.

Sumber : Newsmaker.id

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaan

No Comments

Post a Comment