Blog

PT Equityworld Futures – Minyak Dunia Tertahan: Ancaman Kelebihan Pasokan Bayangi Pasar Global

01:55 22 September in Commodity
0 Comments
0

Harga Minyak Stabil di Level Terendah Dua Bulan

Harga minyak dunia mengalami stagnasi di dekat level terendah dalam dua bulan terakhir. Pada Kamis, 14 Agustus 2025, minyak Brent diperdagangkan mendekati angka $66 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar $63. Penurunan ini terjadi setelah Brent ditutup pada level terendah sejak 5 Juni. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang semakin besar terhadap pasar energi global, terutama akibat proyeksi kelebihan pasokan yang disampaikan oleh Badan Energi Internasional (IEA).

Proyeksi IEA: Rekor Kelebihan Pasokan di Tahun Mendatang

Dalam laporan bulanan terbarunya, IEA memperingatkan bahwa pasar minyak berada di jalur menuju rekor kelebihan pasokan pada tahun 2026. Akumulasi persediaan minyak global diperkirakan akan terjadi lebih cepat dibandingkan dengan masa pandemi tahun 2020. Lonjakan produksi ini terutama berasal dari negara-negara di luar OPEC+, seperti Amerika Serikat, yang terus meningkatkan output mereka.

Dampak Geopolitik: Pertemuan Trump dan Putin Jadi Sorotan

Selain faktor fundamental, pasar juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik. Para pedagang memantau dengan cermat pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dijadwalkan berlangsung pada hari Jumat. Pertemuan ini berpotensi mempengaruhi kebijakan sanksi Washington terhadap anggota OPEC+, yang dapat berdampak langsung pada pasokan dan harga minyak global.

Trump telah mengeluarkan pernyataan keras, mengancam akan memberikan “konsekuensi yang sangat berat” jika Putin tidak menyetujui gencatan senjata, menyusul panggilan telepon dengan para pemimpin Eropa. Ketegangan ini menambah ketidakpastian di pasar energi, meskipun fokus utama tetap pada surplus pasokan.

Produksi OPEC+ dan Amerika: Katalis Penurunan Harga

Minyak telah kehilangan lebih dari 10% sepanjang tahun 2025, sebagian besar akibat keputusan OPEC+ untuk mengakhiri pembatasan produksi yang diberlakukan sejak 2023. Langkah ini membuka kembali jutaan barel kapasitas yang sebelumnya ditutup, menambah tekanan pada harga.

Pemerintah AS juga memperkuat pandangannya bahwa surplus akan terjadi pada tahun 2026. IEA pun menaikkan proyeksi produksi dari negara-negara non-OPEC, terutama Amerika, yang kini menjadi salah satu pemain utama dalam pasar minyak global.

Data Persediaan AS: Lonjakan Stok Minyak Mentah

Data terbaru dari pemerintah AS menunjukkan bahwa stok minyak mentah nasional meningkat sekitar 3 juta barel dalam sepekan terakhir, mencapai level tertinggi dalam dua bulan. Selain itu, kepemilikan sulingan dan persediaan di pusat penyimpanan utama di Cushing, Oklahoma, juga mengalami kenaikan.

Kondisi ini memperkuat kekhawatiran akan kelebihan pasokan, yang dapat menekan harga lebih jauh jika tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan global.

Indikator Pasar: Spread Brent Menyempit

Spread cepat Brent—selisih antara dua kontrak terdekatnya—telah menyempit menjadi 49 sen per barel dalam kondisi backwardation, turun dari hampir $1 sebulan sebelumnya. Penyempitan spread ini menjadi indikator bahwa kondisi jangka pendek pasar minyak menjadi kurang ketat, menandakan potensi pelemahan harga lebih lanjut.

Pergerakan Harga Terbaru

Pada pukul 08.32 pagi waktu Singapura, minyak Brent untuk pengiriman Oktober naik tipis sebesar 0,3% menjadi $65,82 per barel. Sementara itu, minyak WTI untuk pengiriman September naik 0,2% menjadi $62,79 per barel. Kenaikan kecil ini belum cukup untuk mengimbangi tren penurunan yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Kesimpulan: Pasar Minyak Hadapi Tantangan Serius

Pasar minyak global saat ini berada dalam kondisi yang sangat rentan. Kombinasi antara peningkatan produksi, lonjakan persediaan, dan ketidakpastian geopolitik menciptakan tekanan besar terhadap harga minyak. Proyeksi IEA tentang kelebihan pasokan yang akan memecahkan rekor pada tahun mendatang menjadi peringatan serius bagi pelaku pasar dan pembuat kebijakan.

Jika tidak ada langkah strategis untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan, harga minyak berpotensi terus melemah, yang dapat berdampak pada sektor energi, ekonomi global, dan stabilitas geopolitik.

Sumber : Newsmaker.id

News Maker 23 – Indonesia News Portal for Traders

Demo EWF

Demo Equityworld

No Comments

Post a Comment