Blog

PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Harga Emas Turun di Bawah US$5.000, Ini Faktor Pemicunya

08:44 16 March in Gold
0 Comments
0

Harga emas dunia kembali tertekan dan turun ke bawah level psikologis US$5.000 per ons pada awal perdagangan Asia. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang memasuki pekan ketiga serta lonjakan harga minyak dunia akibat gangguan terhadap infrastruktur energi strategis.

Emas spot tercatat melemah sekitar 1% dan sempat diperdagangkan di level US$4.986,34 per ons di Singapura. Penurunan tersebut memperpanjang tren negatif emas setelah mencatat penurunan mingguan kedua secara berturut-turut, menandakan tekanan yang masih kuat terhadap logam mulia.

Konflik yang memanas di Timur Tengah menjadi pemicu utama perubahan sentimen pasar. Serangan Amerika Serikat terhadap pusat ekspor minyak utama Iran dibalas dengan aksi Teheran yang menargetkan fasilitas energi di sejumlah negara Arab. Aksi saling serang tersebut mendorong lonjakan harga minyak global, yang kemudian meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dunia.

 

Naiknya harga energi membuat pelaku pasar mulai menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve maupun bank sentral utama lainnya. Lingkungan suku bunga tinggi cenderung menjadi sentimen negatif bagi emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Saat ini, pasar bahkan hampir tidak melihat peluang pemangkasan suku bunga pada rapat The Fed pekan ini.

Dari sisi ekonomi, data terbaru Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Belanja konsumen hanya meningkat tipis pada Januari, sementara sentimen konsumen turun ke titik terendah dalam tiga bulan terakhir. Kondisi ini menandakan tekanan ekonomi mulai terasa, bahkan sebelum dampak konflik geopolitik berkembang lebih luas.

 

Situasi tersebut menempatkan ekonomi global dalam posisi yang rentan, yakni menghadapi risiko perlambatan pertumbuhan di tengah inflasi yang kembali menguat akibat mahalnya harga energi. Kombinasi ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dan cenderung melakukan penyesuaian portofolio.

Meski demikian, prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang belum sepenuhnya suram. Jika konflik berkepanjangan memicu kondisi stagflasi—kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi tinggi—emas berpotensi kembali diminati sebagai aset lindung nilai (safe haven). Dengan demikian, tekanan harga saat ini bisa jadi hanya bersifat koreksi sementara sebelum emas kembali menemukan momentumnya.

 

Sumber: Newsmaker.id

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaa

No Comments

Post a Comment