PT Equityworld Futures Cyber2 Jakarta | Emas Tertekan Usai Data Inflasi AS, Prospek Pemangkasan Suku Bunga Makin Suram
Harga emas kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (12/3) seiring rilis data inflasi bulanan Amerika Serikat yang memperkecil peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Pelemahan ini terjadi di tengah konflik geopolitik yang masih memanas di Timur Tengah, yang sebelumnya menjadi salah satu penopang utama harga logam mulia.
Pada perdagangan awal hari, harga bullion berada di kisaran USD 5.160-an per ons, setelah mencatat penurunan ringan pada sesi sebelumnya. Pasar merespons negatif data inflasi AS yang memperkuat keyakinan bahwa bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Meskipun inflasi inti AS pada awal tahun ini masih menunjukkan tanda-tanda terkendali—yakni sebelum konflik geopolitik meningkat—fokus pelaku pasar kini bergeser ke risiko inflasi ke depan. Kenaikan harga energi serta gangguan rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah mendorong kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat kembali menguat. Kondisi ini membuat ruang gerak The Fed untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin terbatas.
Situasi serupa juga menjadi perhatian di kawasan Eropa. Uni Eropa memperingatkan bahwa inflasi di wilayah tersebut berpotensi melampaui level 3% tahun ini, seiring membengkaknya biaya energi dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Kekhawatiran inflasi yang bersifat “forward-looking” ini turut menahan minat investor terhadap aset-aset yang sensitif terhadap suku bunga, termasuk emas.
Di sisi geopolitik, konflik antara AS dan Israel yang berhadapan dengan Iran telah memasuki hari ke-13. Eskalasi yang berkepanjangan terus mengganggu produksi serta aktivitas pengilangan minyak di kawasan Timur Tengah. Dampaknya, harga minyak mentah kembali menguat untuk hari kedua berturut-turut, mencerminkan persepsi pasar bahwa risiko perang berkepanjangan lebih dominan dibandingkan langkah-langkah mitigasi pasokan.
Upaya negara-negara maju yang merilis cadangan minyak darurat dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pasar. Bahkan, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan penggunaan Strategic Petroleum Reserve (SPR) guna menahan laju kenaikan harga energi. Namun demikian, volatilitas tetap tinggi karena ketidakpastian geopolitik belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Bagi pasar emas, kombinasi antara suku bunga tinggi yang berpotensi bertahan lebih lama—yang secara struktural menjadi hambatan bagi aset non-yielding—dan meningkatnya kebutuhan likuiditas investor menciptakan tekanan tambahan. Dalam kondisi pasar yang bergejolak, emas kerap dijadikan sumber pendanaan untuk menutup kerugian atau kebutuhan margin di aset lain.
Data menunjukkan bahwa sejak konflik pecah, kepemilikan emas melalui exchange-traded fund (ETF) cenderung menurun. Meskipun sempat terjadi arus masuk pada hari Selasa setelah penurunan tajam pekan sebelumnya—yang tercatat sebagai penurunan terbesar dalam lebih dari dua tahun—tren keseluruhan masih mencerminkan sikap berhati-hati investor.
Kendati demikian, secara tahunan emas masih mencatat kinerja yang solid. Perannya sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik tetap relevan dan menjadi faktor pendukung utama kenaikan harga sepanjang tahun ini. Namun sejak perang meletus pada 28 Februari, momentum kenaikan terlihat tertahan dan pergerakan harga menjadi lebih berombak.
Pada pembaruan terakhir, harga emas spot tercatat turun 0,5% ke level sekitar USD 5.150,82 per ons. Sejalan dengan emas, harga perak juga melemah, sementara platinum dan palladium turut bergerak turun. Penguatan tipis Indeks Dolar Bloomberg memberikan tekanan tambahan bagi logam mulia, mengingat harga emas umumnya bergerak berlawanan dengan dolar AS.
Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan inflasi global, arah kebijakan moneter bank sentral utama, serta dinamika geopolitik di Timur Tengah. Kombinasi faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek hingga menengah.
Sumber: Newsmaker.id
No Comments