EWF_CYBER 2 | Harga Emas Tertahan di US$5.200, Pasar Menanti Rilis CPI AS
Harga emas bergerak stabil di kisaran US$5.190 hingga mendekati US$5.200 per troy ounce pada perdagangan sesi Asia, Rabu. Pergerakan yang relatif datar ini terjadi setelah volatilitas pasar sebelumnya meningkat akibat ketegangan di Timur Tengah, namun kini mulai mereda seiring munculnya sinyal bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran kemungkinan tidak akan berkepanjangan.
Sinyal Meredanya Ketegangan AS–Iran Membantu Menahan Emas
Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa operasi militer Washington di Iran akan segera diakhiri, meskipun belum disertai tenggat waktu pasti. Pernyataan ini membuat harga minyak dunia turun karena kekhawatiran akan gangguan pasokan mulai mereda. Penurunan harga minyak turut mengurangi tekanan inflasi global dan membantu menjaga stabilitas harga emas.
Meski demikian, pelaku pasar tetap waspada. Iran memperingatkan bahwa pihaknya dapat menghambat ekspor minyak kawasan jika serangan AS dan Israel terus berlanjut. Trump juga menegaskan bahwa AS akan mengambil tindakan keras bila arus minyak melalui Selat Hormuz sampai terganggu.
Situasi ini menciptakan tarik-menarik sentimen bagi pasar emas. Ketika risiko geopolitik mereda, tekanan terhadap inflasi menurun sehingga emas bergerak stabil. Sebaliknya, jika konflik kembali memanas atau berlangsung lebih lama, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas bisa meningkat lagi.
CPI AS Menjadi Fokus Utama Pelaku Pasar
Selain geopolitik, perhatian investor kini beralih ke data inflasi AS, yaitu Consumer Price Index (CPI) untuk Februari yang akan dirilis Rabu waktu setempat. Konsensus pasar memperkirakan:
- CPI utama: naik 2,4% secara tahunan
- CPI inti (core inflation): berada di angka 2,5%
Data ini dipandang penting karena dapat memberikan petunjuk tentang arah kebijakan moneter Federal Reserve. Jika CPI keluar lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS berpotensi menguat sehingga menekan harga emas dalam jangka pendek. Namun jika inflasi lebih rendah dari ekspektasi, emas berpeluang menguat karena pasar akan menilai The Fed memiliki ruang lebih longgar untuk mempertahankan atau bahkan menurunkan suku bunga.
Sumber: Newsmaker.id
No Comments