Blog

EWF_CYBER2 | Harga Emas Melemah Meski Konflik Iran Memanas, Dolar dan Yield Mendominasi Sentimen

08:02 06 March in Gold
0 Comments
0

Harga emas ditutup melemah pada perdagangan Kamis (5/3), bahkan ketika ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat akibat eskalasi konflik Iran. Tekanan utama terhadap logam mulia datang dari penguatan dolar AS serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, yang mengimbangi dorongan permintaan safe haven.

Emas Turun Setelah Menyentuh Level Tertinggi Intraday

Di pasar spot, harga emas merosot 1,2% menjadi US$5.076,59 per ons pada penutupan sesi utama. Sebelumnya, emas sempat menguat hingga mencapai US$5.194,59 per ons, namun kenaikan tersebut tidak bertahan hingga akhir sesi.

Kontrak berjangka emas Amerika Serikat (gold futures) mengalami penurunan serupa, ditutup turun 1,1% di level US$5.078,70 per ons.

Koreksi harga ini terjadi karena emas, sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding), menjadi kurang menarik ketika yield obligasi meningkat dan dolar AS menguat.

Yield dan Dolar AS Jadi Penekan Utama

Kenaikan imbal hasil Treasury AS terjadi seiring kekhawatiran pasar terhadap inflasi energi yang kembali muncul. Konflik Iran telah mengerek harga minyak dunia, sehingga pasar menilai tekanan inflasi bisa kembali meningkat. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam memperkirakan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat.

Suku bunga tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan opportunity cost bagi investor yang memegang aset non-yielding seperti logam mulia. Selain itu, penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Risiko Inflasi Energi Mendorong Kekhawatiran Baru

Eskalasi konflik Iran memicu lonjakan harga energi, terutama minyak mentah. Pasar menilai bahwa kenaikan ini berpotensi merembet ke berbagai komponen biaya lainnya, mulai dari transportasi hingga rantai pasok global. Kondisi tersebut dapat memicu inflasi baru, sehingga memberi tekanan pada bank sentral AS untuk menunda pelonggaran kebijakan moneternya.

Ekspektasi bahwa ruang pemangkasan suku bunga semakin menyempit turut menjadi faktor yang membebani pergerakan harga emas.

Sentimen Safe Haven Masih Ada, Tapi Tersisih Sementara

Meski faktor risiko geopolitik sebenarnya dapat mendukung kenaikan emas sebagai aset safe haven, efek tersebut “terkubur” oleh dominasi pergerakan dolar dan yield.

Kekhawatiran terhadap keamanan jalur energi global—khususnya Selat Hormuz—masih nyata. Jika ketidakpastian kawasan meningkat atau terjadi gangguan suplai energi yang lebih besar, permintaan safe haven berpotensi bangkit kembali dan mendorong harga emas naik dengan cepat.

Namun untuk saat ini, pasar lebih fokus pada indikator ekonomi AS dan arah kebijakan suku bunga.

Prospek ke Depan: Pergerakan Emas Tetap Bergantung pada Headline

Dalam waktu dekat, pergerakan harga emas diperkirakan akan sangat sensitif terhadap berita-berita geopolitik maupun data ekonomi utama, termasuk rilis laporan ketenagakerjaan AS.

  • Jika tensi konflik mereda, premi risiko emas bisa menyempit dan menekan harga.
  • Jika eskalasi meningkat, terutama yang mempengaruhi pasokan energi global, dorongan beli emas kemungkinan akan kembali menguat.

Dengan kondisi pasar yang masih labil, dinamika harga emas diperkirakan terus berlangsung fluktuatif dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.

 

Sumber: Investing

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Hubungi Kami

Legalitas Perusahaa

No Comments

Post a Comment